Diguyur hujan, Jokowi sapa warga Bali dengan bahasa lokal

id Presiden Jokowi, joko widodo,kunjungan kerja bali,jokowi berbahas lokal

Jokowi sapa masyarakat Bali dengan bahasa lokal di tengah guyuran hujan (Foto: Hanni Sofia)

Denpasar (ANTARA) - Presiden Joko Widodo langsung disambut antusias ketika menyapa masyarakat Bali dengan bahasa lokal meski hujan mengguyur saat ia menyampaikan pidato.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyapa masyarakat Bali saat menyampaikan sambutan di acara simakrama dengan tokoh adat dan masyarakat Bali di Panggung Terbuka Ardha Chandra, Bali, Jumat malam.

"Sampunapi gatrane? Becik nggih? Dumogi rahajeng sareng sami (bagaimana kabarnya? Baik ya? Semoga selamat sejahtera semuanya),” kata Presiden Jokowi.

Masyarakat Bali yang hadir pun bersorak antusias dan tak henti bertepuk tangan mendengar Jokowi menyapa mereka dengan bahasa lokal tersebut.

Jokowi pada kesempatan itu mengenakan udeng, saput, dan safari sebagai pakaian khas Bali. Sementara Ibu Negara Iriana Joko Widodo mengenakan kebaya warna merah muda dengan sanggul khas Bali.

Presiden Jokowi pun mengaku selalu belajar untuk berbicara dalam bahasa daerah setiap kunjungannya meskipun kerap kali keliru bahkan salah.

Hal itu, kata Jokowi, tidak lain karena negara ini negara besar dengan kekayaan ragam budaya termasuk bahasa daerah yang jumlahnya sangat banyak.

"Negara kita ini negara besar di setiap provinsi setiap daerah beda-beda,” kata Jokowi.

Pada kesempatan yang sama, karena masih dalam suasana Hari Raya Nyepi, Presiden juga menyampaikan ucapan selamat Hari Raya Nyepi kepada masyarakat Bali yang merayakannya.

Hujan yang mengguyur Panggung Terbuka Ardha Chandra dan molornya agenda pertemuan dengan Presiden Joko Widodo pada kesempatan itu tidak menyurutkan antusiasme masyarakat Bali. Mereka tak beranjak sedikitpun dan tetap mendengarkan pidato Jokowi meski hujan yang mengguyur kian deras.

Jokowi bahkan sempat memayungi seorang bendesa atau tokoh adat dari Tabanan saat acara dialog.

Berbagai pesan persatuan disampaikan Jokowi pada kesempatan itu termasuk soal pemilu yang disebutnya bukan perang melainkan pesta demokrasi sehingga harus disambut gembira.

Pewarta : Hanni Sofia
Editor: Edy Supriyadi
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar