Akademisi : Toleransi universal perlu dibangun halau aksi terorisme

id terorisme,kamaruddin hasan,dosen komunikasi unimal,kasus ,aksi penembakan,selandia baru

Kamaruddin Hasan, Dosen Ilmu Komunikasi Unimal. (ANTARA)

Lhokseumawe, Aceh (ANTARA) - Lemahnya literasi tentang toleransi dan kemanusiaan menjadi aksi brutal yang dilakukan oleh pelaku penembakan umat Islam yang sedang melaksanakan ibadah shalat Jumat di Selandia Baru.

Dosen pengajar ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh, Aceh, Kamaruddin Hasan, Sabtu malam menyebutkan bahwa aksi teror yang dipraktekkan oleh Brenton Tarrant terhadap umat Islam di Selandia Baru tersebut, mengambarkan bahwa dirinya tidak mampu memahami makna toleransi dalam dimensi yang lebih lebih luas (global).

“Semua yang ada di bumi ini memiliki nilai-nilai toleransi yang universal. Sikap dan sifat kemanusiaan dan kehidupan yang harmonis juga menjadi salah satu dasar bagi setiap penganutnya. Oleh karena itu, apa yang dipraktekkan oleh pelaku penembakan di masjid New Zealand adalah sebuah ketidakmampuan pelaku dalam memahami makna toleransi,” kata Kamaruddin.

Sebagaimana diketahui, bahwa pelaku penembakan yang bernama Brenton Tarrant yang berasal dari Australia dan menyita perhatian internasional atas aksi brutalnya, menjadi persoalan sensitif yang harus dilihat secara menyeluruh dan lengkap serta dsatu perspektif dalam mencari solusinya.

Lanjut Kamaruddin, dalam konteks komunikasi internasional, perlu penyebaran ide yang menggunakan suatu proses komunikasi menuju kehidupan sosial yang harmonis serta toleransi terhadap individu ataupun masyarakat diberbagai negara. Diantaranya adalah menanamkan gagasan kepada individu dan masyarakat negara lain agar membenci aksi terorisme.

Serta memperkuat hubungan diplomatik untuk memperluas pengaruh buruk paham dan aksi terorisme serta mewujudkan norma edukasi yang menuju kondisi toleransi dan menjunjung tinggi hak-hak dasar kemanusian yang bermartabat.

“Tujuan ini mempertajam cara pandang terhadap peristiwa yang masuk kedalam ranah aksi terorisme. Karena terorisme merupakan kejahatan kemanusiaan terbesar yang harus diantisipasi secara cepat dan global serta mencegah berbagai faham radikalisme. Selain itu, harus dipahami bersama pula bahwa terorisme sama sekali tidak identik dengan agama tertentu,” pungkas dosen ilmu komunikasi Unimal tersebut.

Baca juga: Wali Kota imbau warga Banda Aceh doakan muslim Selandia Baru
Baca juga: ACT ikut fasilitasi keberangkatan keluarga Zulfirman Syah ke Selandia Baru
Baca juga: Pria kulit putih didakwa terlibat dalam pembunuhan di Selandia Baru

Pewarta : Mukhlis
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar