Korea Selatan kecewa atas hasil pertemuan kedua Trump-Kim

id pertemuan Trump Kim,KTT Trump Kim,Donald Trump,Kim Jong Un,Semenanjung Korea

Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia Kim Chang-beom menyampaikan pernyataan mengenai pertemuan tingkat tinggi kedua antara Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, kepada sejumlah media di Jakarta, Rabu (6/3/2019). (ANTARA News/Yashinta Difa)

Jakarta (ANTARA) - Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia Kim Chang-beom menyampaikan kekecewaannya atas hasil pertemuan tingkat tinggi kedua antara Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un di Hanoi, Vietnam, 27-28 Februari lalu. 

Menganalogikan pertemuan Trump-Kim sebagai film, Dubes Kim menyebut pertemuan di Hanoi sebagai sekuel yang “tidak sebagus” film pertama atau pertemuan pertama mereka di Singapura, Juni 2018.

“Terkait pertemuan kedua di Hanoi, kami semua gelisah dan penasaran untuk mengetahui apa yang akan terjadi. Dan karena kami mempunyai ekspektasi tinggi terhadap hasil pertemuan antara Presiden Trump dan Pemimpin Kim, kami merasa sedikit kecewa atas ketiadaan kesepakatan antara kedua pemimpin tersebut,” kata Dubes Kim dalam diskusi dengan sejumlah media di Jakarta, Rabu.

Penandatanganan kesepakatan mengenai upaya mengakhiri program nuklir Pyongyang batal, dan perundingan antara kedua pihak selesai lebih cepat karena AS menolak tuntutan Korea Utara untuk menyabut seluruh sanksi ekonomi.

Trump dan Kim juga segera kembali ke negara masing-masing, sesaat setelah pertemuan di Hanoi selesai.

Meski demikian, Korea Selatan mencatat beberapa sisi positif dalam pertemuan tersebut, salah satunya bahwa AS dan Korea Utara tidak saling menyalahkan.

“Mereka menggambarkan pertemuan tersebut sebagai sesuatu yang produktif. Jadi aspek pertama yang bisa saya lihat dari perspektif yang optimistis adalah setidaknya mereka telah membuka pintu konsultasi dan negosiasi lebih lanjut,” tutur Dubes Kim.

Sisi positif kedua yang diperoleh dari pertemuan kedua Trump-Kim di Hanoi adalah transparansi posisi masing-masing negara untuk menangani isu-isu sensitif yang dihadapi kedua negara, terutama mengenai denuklirisasi dan pencabutan sanksi terhadap Korea Utara.

Dalam pertemuan tersebut, Trump secara jelas menuntut Korea Utara membongkar Pusat Riset Ilmiah Nuklir Yongbyon.

Permintaan tersebut akan diamini oleh Korea Utara jika seluruh sanksi ekonomi AS terhadap negara tersebut dicabut.

“Sayangnya, masih ada perbedaan interpretasi (antara Trump dan Kim) terkait cakupan poin-poin perundingan tersebut,” tutur Dubes Kim.

Sisi positif lainnya adalah AS telah menyampaikan gagasan yang mungkin mengarah pada kantor penghubung (liaison office) AS di Korea Utara, dan beberapa langkah yang mengarah pada normalisasi hubungan antara AS dan Korea Utara.

“Jadi sebenarnya banyak hasil yang bisa dipetik, tetapi itu tergantung pada seberapa besar upaya Korea Utara melakukan denuklirisasi. Apa yang bisa kita harapkan sekarang adalah bagaimana agar proses negosiasi bisa tetap berlanjut,” ujar Dubes Kim.

Baca juga: Trump: Korut tak punya masa depan ekonomi jika punya senjata nuklir

Baca juga: Korut sebut AS takkan pernah lolos dari ancaman keamanan jika pembicaraan tak ada hasil

 

Pewarta : Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Azizah Fitriyanti
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar