Pidie Aceh "diterjang" hujan es dan puting beliung

id Hujan,Es,Aceh

Sejumlah warga membersihkan puing-puing kandang ayam yang roboh akibat diterjang angin puting beliung. (ANTARA FOTO/Nurul Ramadhan)

Banda Aceh (ANTARA) - Peristiwa hujan batu es yang disertai angin kencang puting beliung telah "menerjang" satu Gampong (desa), yakni Lhok Keutapang di Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie, Aceh pada Selasa siang sekitar pukul 15.00 WIB.

"Akibatnya, ada enam unit rumah masyarakat rusak. Di antaranya dua rusak berat, dua rusak ringan, dan dua lagi rusak ringan," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Teuku Ahmad Dadek di Banda Aceh.

Ia menambahkan, keenam unit rumah milik masyarakat yang rusak akibat hujan batu es, dan disertai angin kencang tersebut berada di Dusun Geunie, Gampong Lhok Keutapang.

Sebanyak enam kepala keluarga dengan total 15 jiwa yang selama ini menempati rumah tersebut menjadi korban terdampak, akibat kedua peristiwa fenomena alam cukup jarang terjadi di provinsi paling Barat Indonesia ini.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pidie, dan unsur musyawarah pimpinan kecamatan (muspika), kini sudah berada di lokasi untuk melakukan pendataan dan pemantauan di lokasi kejadian.

"Mereka (BPBD Pidie) sedang berkoordinasi dengan muspika setempat. Malam ini di lokasi kejadian, keadaan sudah kondusif," lanjut Dadek.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengingatkan, dewasa ini untuk cuaca di wilayah Aceh menunjukkan sedang memasuki masa peralihan dari musim penghujan menuju ke musim kemarau.

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I, Aceh, Zakaria Ahmad mengatakan, selama masa peralihan cuaca ini, maka intensitas hujan menurun dari sebelumnya untuk provinsi paling Barat di Indonesia ini.

"Cuaca panas seperti saat ini berpotensi muncul angin kencang, dan cenderung terjadi puting beliung di suatu wilayah akibat tumbuhnya awan Cumulonimbus," katanya.

Baca juga: Angin kencang rusak 24 rumah di Aceh
 

Pewarta : Muhammad Said
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar