Pemkab Tulungagung pastikan perbaikan sekolah rusak akibat bencana

id Bencana, bencana angin kencang, anggaran tanggap darurat, bencana tulungagung

Plt Bupati Maryoto Bhirowo meninjau kelas darurat di SMPN 1 Gondang, Tulungagung, Senin (4/3/2019) (Ist)

Tulungagung, Jatim (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur memastikan akan memperbaiki bangunan ruang kelas di SMPN 1 Gondang yang rusak akibat tertimpa pohon tumbang aklibat  angin kencang yang melanda daerah itu pada Jumat (1/3).

"Saya sudah instruksikan dinas pendidikan melakukan rencana aksi tanggap darurat untuk perbaikan kelas-kelas yang rusak akibat bencana angin kencang kemarin," kata  Pelaksana tugas (Plt) Bupati Tulungagung Maryoto Bhirowo usai mengunjungi kelas darurat di SMPN 1 Gondang, Senin.

Dana perbaikan atau renovasi kelas yang rusak sendiri akan dialokasikan dari anggaran tanggap bencana kabupaten. Namun ia tidak merinci bearaan yang akan didisposisikan.

Ia mengatakan, besaran anggaran disesuaikan dengan  kebutuhan dan akan disinergikan antara BPBD, dinas PUPR dan dinas pendidikan setempat.

"Pemulihan pasca bencana akan diambilkan dari anggaran tanggap bencana kabupaten," ujarnya.

Plt Bupati Tulungagung  didampingi jajaran organisasi perangkat daerah (OPD)  telah meninjau dampak angin kencang yang merusak infrastruktur sekolah di SMPN 1 Gondang.

Ia mengaku prihatin, karena  puluhan siswa dari dua kelas berbeda di sekolah itu sekarang harus mengikuti kegiatan belajar-mengajar secara darurat di masjid sekolah. Tidak ada meja kursi disediakan. Para siswa harus mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan cara lesehan.

Lokasi masjid yang berdekatan dengan jalan raya juga membuat aktivitas KBM terganggu suara bising lalu lalang kendaraan yang melintas.

"Suara kendaraan, dan KBM di sebelah sering membuyarkan konsentrasi," kata Bayu, salah seorang siswa kelas VIII.

Sementara itu, Kepala sekolah SMPN 1 Gondang Mohammad Nurhadi mengharapkan segera ada pemulihan terhadap kelas yang rusak tertimpa pohon.

"Kami harapkan segera ada penanganan yang terbaik untuk siswa ," ujar Nurhadi.

Namun, kata Nurhadi, pihak sekolah tidak punya cukup anggaran untuk melakukan perbaikan kelas.

Dia beralasan, saat ini pihak sekolah sangat menggantungkan bantuan dari pemerintah.

"Dari Pemkab akan menanggung penuh biaya melalui  Kepala Dinas (Pendidikan)," ujarnya.

Kebutuhan biaya sendiri untuk dua kelas yang rusak berat, masing-masing Rp90 juta.
Sedang untuk rusak ringan dan sedang berkisar Rp45 juta hingga Rp60 juta per kelas.

Untuk mengantisipasi terulangnya kejadian serupa, pihaknya akan memangkas dahan-dahan yang berpotensi patah.

"Secepatnya akan kita lakukan pemangkasan," kata Nurhadi.

Ia menegaskan, pihaknya tidak akan menebang pohon-pohon yang ada lantaran sekolah yang dipimpin ya merupakan sekolah Adiwiyata. 

Pewarta : Destyan H. Sujarwoko
Editor: Masnun
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar