Stiker "Ada jentik" menanti warga tak patuh Jumantik di Pasar Baru

id Demam Berdarah,Jumantik

Petugas juru pemantau jentik (jumantik) memeriksa bak kamar mandi milik warga di RT 15 RW 04 Pasar Baru, Jakarta Pusat, Jumat (1/3/2019). Petugas mengintensifkan pemeriksaan jentik menjadi dua kali seminggu setiap Rabu dan Jumat untuk menekan perkembangbiakan nyamuk penular demam berdarah dengue (DBD). (ANTARA/Dewa Wiguna.)

Jakarta (ANTARA) - Warga Pasar Baru, Jakarta Pusat, yang tidak mematuhi saran kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik) untuk menjalankan upaya pencegahan perkembangbiakan nyamuk penular demam berdarah dengue rumahnya akan ditempeli stiker bertulisan "Ada Jentik".

Kader-kader Jumantik menempelkan stiker tersebut pada rumah warga yang mereka dapati masih berjentik saat pemeriksaan dengan harapan bisa memberikan sanksi sosial bagi warga yang mengabaikan upaya pencegahan penularan demam berdarah dengue.

"Kami akan terus menagih komitmen warga. Kalau masih ditemukan pada pemeriksaan berikutnya, kami berikan sanksi sosial," kata Koordinator Jumantik RW 04 Kelurahan Pasar Baru Rochani (61) saat melakukan pemeriksaan jentik di rumah warga Pasar Baru, Jumat.

Kader Jumantik, menurut dia, akan mencabut stiker "Ada Jentik" kalau pada pemeriksaan rutin selanjutnya tidak lagi menemukan jentik nyamuk pada rumah warga yang bersangkutan.

Merebaknya kasus DBD di DKI Jakarta mendorong para kader Jumantik di Pasar Baru meningkatkan frekuensi pemeriksaan rutin dari sepekan sekali menjadi menjadi dua kali seminggu setiap Rabu dan Jumat.

Kelurahan Pasar Baru memiliki 76 kader jumantik yang tersebar di setiap rukun tetangga.

Para kader jumantik, yang mengenakan seragam khas berwarna kuning, mulai mendatangi rumah warga sekitar pukul 08.00 WIB saat pemeriksaan rutin.

Pada Jumat, giliran RT 15 RW 04 di Jalan Belakang Pasar Baru I, yang didatangi oleh kader Jumantik, semuanya ibu-ibu warga Kelurahan Pasar Baru.

"Kami datangi RT secara bergiliran. Kalau sekarang (RT) 15, minggu depan menyusul RT lain," kata Rochani.

Secara acak, mereka memasuki satu per satu rumah dan tempat usaha warga untuk melakukan pemeriksaan jentik.

Kamar mandi menjadi tujuan pertama mereka dalam pemeriksaan karena itu merupakan tempat favorit nyamuk Aedes aegypti berkembang biak.

Dengan menggunakan senter, mereka memeriksa bak air dan area sekitar kamar mandi, juga wadah air yang dicurigai menjadi tempat jentik nyamuk seperti bagian dispenser dan area bawah kulkas.

Dalam pemeriksaan, petugas Jumantik mendapati jentik nyamuk di beberapa rumah dan tempat usaha seperti salon kecantikan dan warung makan.

Petugas kemudian mendata pemilik rumah dan meminta mereka menandatangani formulir pemeriksaan.

"Minggu depan kami akan datang lagi. Kalau masih ada jentik, kami pasang stiker dan kami laporkan kepada RW untuk ditindaklanjuti," ujar Rochani.

Sementara itu, Kepala Seksi Kesejahteraan Rakyat Kelurahan Pasar Baru Fani Fadila, yang hadir dalam pemeriksaan jentik nyamuk, mengungkapkan kelurahan baru menerima satu laporan mengenai warga yang terdampak DBD.

"Bulan Februari lalu ada satu warga dilaporkan kena DBD di RW 5 Jalan Kartini," imbuhnya.

Dalam pemeriksaan ke rumah warga, Fani juga mengingatkan bahwa nyamuk Aedes aegypti berkembang biak di air bersih.

Baca juga: Kasus baru DBD Cipayung tertinggi di DKI Jakarta

Baca juga: IAKMI: Waspadai perkembangan penular DBD di permukiman mewah

 

Pewarta : Virna P Setyorini/Dewa Wiguna
Editor: Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar