Manggarai Barat berupaya putus mata rantai penularan DBD

id demam berdarah dengue,dbd,demam berdarah,ntt

Ilustrasi. Pengasapan (fogging). (ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)

Kupang (ANTARA News) - Wakil Bupati (Wabup) Manggarai Barat Maria Geong mengatakan pemerintah setempat terus berupaya keras memutus mata rantai penularan penyakit demam berdarah dangue (DBD) yang menyerang warga di daerah itu.

"Saya melihat pola perdagangan kota ke desa juga menjadi pemicu penyebaran penyakit DBD sehingga butuh perjuangan yang sangat keras untuk bagaimana memutus mata rantai masalah ini," kata Maria Geong kepada Antara ketika dihubungi dari Kupang, Selasa.

Ia mengatakan, banyak pedagang dari Kota Labuan Bajo yang setiap hari menjual berbagai produk, seperti ikan, es, dan lainnya ke pasar-pasar di daerah perdesaan.

Produk-produk yang dijual tersebut, lanjutnya, bisa membawa serta telur-telur nyamuk yang positif dengan virus DBD.

"Sementara pasar-pasar di perdesaan itu dekat dengan pemukiman warga sehingga sangat rentan tertular DBD," katanya.

Menurut Maria, pola penularan seperti ini menjadi aspek penting perhatian pemerintah setempat untuk disiasai sehingga DBD tidak menjadi penyakit endemis yang selalu muncul saat pergantian musim setiap tahun.

Karena itu, ia menekankan pentingnya edukasi kepada seluruh elemen masyarakat terkait pola hidup nyamuk aedes aegypti penyebab DBD dan bagaimana penularannya.?

Maria mengatakan, setelah masa kejadian luar biasa (KLB) DBD di daerah itu dilewati, selanjutnya pemerintah setempat akan membentuk pedoman khusus untuk upaya pencegahaan.

"Harus ada tim-tim di lapangan untuk upaya preventif, tidak bisa kami biarkan mumpung penularannya masih sedikit," katanya.

Pihaknya mencatat, selama Januari hingga 20 Februari 2019 tercatat jumlah DBD di Manggarai Barat mencapai 452 kasus dengan jumlah korban meninggal sebanyak lima orang.

Baca juga: Sempat KLB, kasus DBD di Kota Kupang-NTT terus menurun
Baca juga: 5 orang meninggal akibat DBD di Manggarai Barat NTT

Pewarta : Aloysius Lewokeda
Editor: Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar