TKN Jokowi-Ma'ruf bahas strategi tangkal politik kebohongan

id Budiman Sudjatmiko, politik kebohongan, hoaks

Delegasi Komunitas Muda Amin (KMA) Indonesia berswafoto dengan politikus PDI Perjuangan Budiman Sudjatmiko (kanan) seusai deklarasi oleh delegasi KMA Indonesia di Rumah Cemara 19, Jakarta, Rabu (19/9/2018). Pemuda-pemudi yang tergabung dalam Komunitas Muda Amin Indonesia mendeklarasikan dukungan terhadap pasangan bakal calon Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo-Ma'ruf Amin dalam pemilihan presiden 2019. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/foc.

Bogor (ANTARA News) - Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf menyiapkan strategi khusus menghadapi politik kebohongan dalam kegiatan konsolidasi tim itu di Kota Bogor, Jawa Barat, Senin malam.

"Politik kebohongan harus dilawan, saya banyak mengkaji soal politik hoaks, soal politik kebohongan yang banyak dipraktikkan di beberapa negara," kata politikus PDI Perjuangan Budiman Sudjatmiko yang juga anggota TKN Jokowi-Ma'ruf.

Ia menuturkan bahwa politik kebohongan banyak dipraktikkan di Amerika, Inggris, Kenya dan saat ini sedang berlangsung di Brazil.

"Ini yang kita waspadai, jangan sampai terjadi di Indonesia," katanya.

Menurut Budiman, politik kebohongan harus menjadi perhatian bersama, tidak hanya oleh tim pemenangan Jokowi-Ma'ruf, tetapi juga  oleh seluruh komponen bangsa.

Dikatakannya, sebenar apa pun, seakurat apa pun seseorang jika selama politik kebohongan belum bisa dilawan maka kebenaran yang pertama menjadi korban.

"Bukan soal Pak Jokowi kalah atau kami kami kalah, yang dikalahkan adalah kebenaran," katanya.

Budiman menekankan bahwa isu politik kebohongan harus menjadi perhatian bangsa karena terkait dengan kewarasan.

Menurut dia, luka yang ditimbulkan oleh politik kebohongan nantinya akan parah, siapa pun yang akan menang kalau lahir dari kebohongan maka akan mewariskan kebohongan.

"Kalau Pak Jokowi menang, Pak Prabowo menang, dengan kampanye kebohongan semua akan diwarisi oleh sebuah bangsa yang kewarasannya sudah dirusak," kata Budiman.

Menurutnya, politik kebohongan merusak bagian dari otak yang disebut  LOFC (lateral orbital frontal cortex), sebuah wilayah di otak yang memberi kemampuan manusia untuk menyaring informasi secara kompleks.

"Kalau otaknya sudah dirusak dengan isu-isu yang sifatnya murahan, recehan, yang terjadi kemudian orang malas berpikir rumit, berpikir kompleks, menyaring mana yang benar dan salah," katanya.

Pewarta : Laily Rahmawaty
Editor: Sigit Pinardi
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar