Menata kembali pendidikan pascabencana

id gempa palu, gempa, tsunami, pendidikan, kemendikbud,bantuan,tenda, iluni ui,sekolah darurat,gempa donggala,tsunami donggala,tsunami palu

Tenda kelas darurat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) di pengungsian Desa Pombewe, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Selasa (9/10/2018). (ANTARA/Virna P Setyorini)

Galang tak bisa menahan tangisnya, saat mengenang kembali gempa bumi yang disusul tsunami dan likuifaksi yang melanda Palu pada Jumat (28/9).

Ketika gempa terjadi, Galang sedang menunaikan salat Magrib di masjid. Ia tidak bisa melanjutkan salat, kepalanya terhantam ke dinding. Tanahnya bergeser, berputar, bergelombang, dan rumahnya terseret hingga satu kilometer.

"Saat itu, Galang langsung menangis. Mamak masuk ke dalam tanah, jadi waktu masuk langsung ditutup tanah begini," kata Galang menahan tangis sambil memperagakan merapatkan kedua tangannya.

Galang menyebut kakaknya melihat dengan jelas peristiwa itu. Dalam peristiwa itu, ayahnya juga ikut tewas terseret lumpur. Kini Galang, hanya bisa mendoakan kedua orang tuanya.

"Semua orang mendoakan ibu, bapak saya," kata Galang sambil menangis dalam video berdurasi 60 detik yang diunggah Indonesiamuda dalam akun Instagramnya.

Video yang diunggah lima hari lalu tersebut, diklik hingga lebih dari 350.000 pengunjung.

Gempa bumi berkekuatan 7,4 Skala Richter (SR) tersebut, tak hanya meluluhlantakkan bangunan di sejumlah daerah di Sulawesi Tengah tersebut tapi juga meninggalkan trauma di hati penyintas yang saat ini masih bertahan.

Tiga kawasan permukiman warga di Ibu Kota Provinsi Sulteng, Palu,yakni Balaroa, Kecamatan Palu Barat, Petobo di Kecamatan Palu Timur dan sebagian di Mamboro, Kecamatan Taweli hancur diluluhlantakkan gempa dan tsunami.

"Tidak hanya murid yang mengalami trauma, para guru pun banyak yang trauma," ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy saat menerima bantuan dari Badan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang menangani masalah anak atau UNICEF.

Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang tersebut, mengatakan baik guru dan murid mendapatkan terapi trauma di tempat pengungsian. Terapi trauma diberikan para sukarelawanan hingga anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Mendikbud mengakui pihaknya kekurangan tenda darurat yang diperuntukkan bagi kelas darurat di pengungsian.

Penyebabnya, bencana terjadi secara beruntun mulai dari Nusa Tenggara Barat (NTB) lalu Sulawesi Tengah. "Karena terjadinya beruntun maka penanganan di bidang pendidikan menjadi sangat merepotkan," kata Muhadjir.

Semua tenda dan bantuan dari UNICEF sebelumnya, lanjut Mendikbud, sudah disebar di NTB. Akibatnya Sulawesi Tengah mengalami kekurangan tenda. Tenda yang baru terpasang di Sulawesi Tengah hingga Selasa (16/10) baru 18 tenda.

"Saat saya ke Sulawesi Tengah, saya beri araan agar ada kelas darurat yang dibangun masyarakat dan Kemendikbud akan membantu memberikan terpal sebagai atap dengan biaya pemasangan Rp30 juta," jelas dia.

Muhadjir menambahkan pihaknya akan memesan tenda yang baru, namun ada prosedur yang harus dilewati yakni proses lelang. Dengan hadirnya bantuan dari UNICEF, kata dia, maka akan sangat membantu proses kegiatan belajar mengajar di Sulawesi Tengah.

Badan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang Membidangi Anak-anak (UNICEF) memberikan bantuan sebanyak 65 tenda yang diperuntukkan sebagai kelas darurat dan sejumlah kotak mainan yang bertujuan untuk mengobati rasa trauma siswa. UNICEF menyebutkan setidaknya dibutuhkan dana hingga 26,6 juta dolar Amerika Serikat untuk mendukung tanggap darurat dan pemulihan dini bagi anak-anak di Sulawesi dan Lombok.

"Dukungan sosial sangat dibutuhkan anak-anak. Tidak hanya di sekolah, tetapi juga lingkungan yang ramah pada anak," kata Perwakilan UNICEF untuk Indonesia, Debora Comini.

Kemendikbud dan UNICEF berencana untuk membangun sebanyak 450 tenda yang diperuntukkan sebagai kelas darurat di Sulawesi Tengah.

Sekolah Darurat

Tak hanya sekolah di tenda darurat, Kemendikbud juga akan membangun sekolah darurat yang terdiri dari bangunan semi permanen.

Sekolah darurat tersebut terdiri dari tujuh kelas dan merupakan bangunan semi permanen. Satu kelas dapat menampung sekitar 33 siswa.

Sekretaris Jenderal Kemendikbud, Didik Suhardi,  menambahkan pihaknya menganggarkan dana sebesar Rp10 miliar untuk membangun sekolah darurat tersebut.

"Kami juga akan memberikan bantuan berupa peralatan dan baju sekolah yang diperuntukkan bagi siswa," kata Didik.

Hingga saat ini, Kemendikbud menyebutkan sebanyak 422 sekolah rusak di Sulteng. Pihaknya terus melakukan pendataan karena masih ada beberapa daerah yang sulit diakses.

Kemendikbud juga mengeluarkan surat edaran yang meminta kepala dinas melakukan koordinasi dengan sekolah untuk mengidentifikasi jika ada korban bencana alam pada anak usia dini yang mengungsi.

Surat edaran itu juga meminta  kepala sekolah untuk menerima tanpa syarat dan memfasilitasi peserta didik korban bencana alam untuk mendapatkan fasilitas pendidikan yang memadai.

Upaya menata pendidikan tak hanya dilakukan oleh pihak Kemendikbud, tetapi juga masyarakat.

Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) membangun sekolah tanggap bencana di sejumlah daerah yang terkena dampak bencana di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

"Membangun kembali prasarana pascabencana sangat penting sebagai upaya pemulihan kehidupan sehari-hari masyarakat. Kami sengaja membangun sekolah yang permanen, bukan lagi sekolah darurat untuk membantu memulihkan psikologis siswa yang terkena bencana," ujar Ketua Kelompok Keilmuan Perancangan dari Departemen Arsitektur Fakultas Teknik UI, Prof Yandi Andri Yatmo.

Sekolah Indonesia adalah sebuah inisiatif untuk mewujudkan sekolah tanggap bencana. Pembangunan sekolah tersebut merupakan program dari Ikatan alumni Arsitektur FTUI dan Ikatan Alumni FTUI, FTUI, dan Fusi Foundation.

Untuk tahap awal, pembangunan berlokasi di Desa Kerandangan, Batulayar, Lombok Barat. Sekolah yang dibangun terdiri dari enam ruang kelas, satu perpustakaan dan satu ruang guru. Dinding sekolah tersebut tidak terbuat dari bata melainkan sejenis gipsum yang tahan air dan gempa. Hal itu dilakukan karena sebagian besar, masyarakat cedera ketika gempa dikarenakan dinding. Untuk biaya per unit mencapai Rp390 juta.

Pihak ILUNI UI menargetkan bisa membuat setidaknya lima sekolah tanggap bencana di Lombok. Sekolah tersebut terdiri dari unit-unit yang fleksibel dan dapat dibongkar pasang, serta bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan situasi di setiap lokasi.

"Kami tidak hanya sekadar membangun fisik sekolah, namun membagun ekosistem belajar yang menyenangkan," jelas Yandi.

Ke depan tak hanya di Lombok, ILUNI UI juga akan membangun sekolah tanggap bencana di Palu. Dengan harapan, anak-anak korban bencana bisa tetap mengakses pendidikan. Gempa dan tsunami boleh saja meratakan rumah dan sekolah, tetapi jangan sampai semangat belajar terseret likuifaksi, karena sejatinya pendidikan harus tetap berlanjut apapun kondisinya.

Baca juga: Pemda bangun kelas darurat korban gempa Parigi
Baca juga: Mendikbud segera dirikan sekolah darurat gempa di Sulteng
Baca juga: UNICEF bantu tenda untuk kelas darurat di Sulawesi Tengah

 

Pewarta : Indriani
Editor: Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar