Lebaran Betawi unjuk kekuatan budaya ibukota

id lebaran betawi,konser betawi,setu babakan,budaya jakarta

Pengunjung tengah berfoto dengan ikon Budaya Betawi, Ondel-Ondel dalam acara Lebaran Betawi 2018 di Setu Babakan, Minggu (29/7).

Jakarta (ANTARA News) Di tengah derasnya arus globalisasi dan perubahan zaman, bertahan dengan tradisi dan kebudayaan yang diwariskan sejak masa leluhur bukan perkara mudah.

Namun, masyarakat asli ibu kota negara yang saat ini jumlahnya kian tergerus, dan terpinggirkab dari tanah leluhurnya itu, masih mampu bertahan dengan menggelar Lebaran Betawi yang rutin diadakan setiap tahun.

Untuk pertama kalinya, Lebaran Betawi diadakan pada Oktober 2008 di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Saat itu, penggagasnya adalah Wakil Ketua Umum Badan Musyawarah (Bamus) Organisasi Masyarakat Betawi Amarullah Asbah, atau Bang Uwo.Sebagaimana disampaikan Ketua Panitia Lebaran Betawi 2018, Munier Arsyad di depan Gubernur Anies Baswedan, sejak 2008 ada tiga pesta besar masyarakat asli ibu kota itu, yaitu Lebaran Idul Fitri, Lebaran Idul Adha, dan Lebaran Betawi.

Dalam penyelenggaraan pertamanya, Lebaran Betawi didukung oleh Sylviana Murni yang sempat menjabat sebagai Wali Kota Jakarta Pusat pada 2008, dan Fauzi Bowo, saat itu menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta dan Ketua Dewan Pembina Bamus Betawi.

Sejak ditetapkan sebagai program unggulan Bamus Betawi, Lebaran Betawi pun digelar kembali pada 2009 di Ragunan, Pasar Minggu; di Sentra Primer Puri Indah, Jakarta Barat; dan di Lapangan Sepak Bola BPLIK PIK, Cakung, Jakarta Timur.

Pagelaran Lebaran Betawi ke-5 dihelat di Lapangan Eks. Djabesmen Kelapa Gading, Jakarta Utara; berlanjut di Areal Monas, Jakarta Pusat pada tahun ke-6 dan ke-7. Sementara itu, pada tahun ke-8 dan ke-9, pesta rakyat Betawi itu kembali diadakan di Lapangan Banteng.

Hingga pada tahun ke-10 dan ke-11, warga Jakarta Selatan, khususnya pengelola Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan kembali menerima kehormatan menjadi tuan rumah Lebaran Betawi.

Bukan sekadar selebrasi

Ide tentang Lebaran Betawi mulanya hendak mempertahankan tradisi saling bersilaturahmi antara anak lebih muda ke para tetua dengan membawa hantar-hantaran.

Kebiasaan itu pun dilanjutkan pada Lebaran Betawi ke-11 yang diadakan sejak 27 hingga 29 Juli. Menjelang penghujung acara yang dihadiri Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan beserta istri, Fery Farhati Ganis, lima walikota dan satu bupati menyerahkan hantar-hantaran ke orang nomor satu ibukota.

Hantaran yang diserahkan merupakan simbol penghargaan dan penghormatan, berisi panganan khas masing-masing daerah, misalnya olahan laut dari Kabupaten Kepulauan Seribu, kuliner khas lainnya seperti Ikan Gabus Pucung, dan Roti Buaya.

Sebelum menerima hantaran, Anies mengatakan, jumlah pendatang ke ibukota memang telah menggerus penduduk asli. Bahkan, sebagaimana disampaikan Ketua Panitia Lebaran Betawi 2018 Munier Arsyad, jumlah penduduk asli bersisa tiga juta jiwa.

Namun, eksistensi masyarakat Betawi, bagi Gubernur Anies, tidak ditentukan oleh banyaknya jumlah masyarakat asli yang bertahan, tetapi bagaimana kelompok itu dapat konsisten mempertahankan tradisi dan kebudayaannya.

"Jumlah masyarakat Betawi bisa jadi tidak terlalu banyak, karena makin hari banyak pendatang di ibukota. Tetapi, kalau ditanya budayanya, maka pengaruhnya amat besar di Jakarta," kata Anies dalam sambutannya di acara Lebaran Betawi ke-11, Minggu (29/7).

Ia menjelaskan, begitu para pendatang dari berbagai daerah tiba di Jakarta, mereka harus mengikuti kebiasaan masyarakat Betawi.

"Jangan lupa, peristiwa-peristiwa besar di ibukota, fondasinya adalah budaya Betawi," tambahnya.

Dengan demikian, Anies menyatakan komitmennya bahwa Lebaran Betawi tidak hanya harus dilestarikan, tetapi dikembangkan.

"Jika hanya dilestarikan, maka masa lalu (tentang Lebaran Betawi) akan awet, tetapi jika dikembangkan, maka (kegiatan itu) akan terus mengikuti perkembangan zaman," terang Anies yang disambut suara tepuk tangan warga yang hadir di Perkampungan Budaya Setu Babakan.

Sementara itu Wali Kota Jakarta Selatan Marullah Matali menerangkan, Lebaran Betawi merupakan ajang untuk saling bersilaturahmi dan memupuk persaudaraan antarsesama.

"Jika kemarin ada banyak perdebatan, kompetisi, ini saatnya (Lebaran Betawi) untuk mendinginkan kembali suasana," kata Marullah saat ditemui pada miniatur Rumah Wali Kota Jakarya Selatan di tengah acara berlangsung di Setu Babakan, Minggu (29/7).

Dalam kesempatan itu, ia menyatakan, acara Lebaran Betawi ke-11 tampak lebih meriah.

"Tahun ini kelihatannya ramai, meriah," tambahnya.

Penganan dan ornamen khas

Selama tiga hari pada 27-29 Juli, delapan ikon Budaya Betawi menjadi ornamen utama yang dihadirkan dalam Lebaran Betawi ke-11.

Sebagaimana ditetapkan Peraturan Gubernur DKI Jakarta No.11 Tahun 2017 tentang Ikon Budaya Betawi, delapan ikon budaya yang menghiasi acara itu, di antaranya Ondel-Ondel, Kembang Kelapa, Ornamen Gigi Balang, Baju Sadariah, Kebaya Kerancang, Batik Betawi, Kerak Telor, dan Bir Pletok.

"Sengaja memang ke sini, tahun lalu juga, karena lengkap semua ada (panganan khas). Tadi saya beli Kerak Telor, makan sama anak-anak, dan beli dodol ketan item buat dibawa pulang," kata Nur (37) yang datang ke acara Lebaran Betawi bersama dua anaknya.

Tidak hanya makan dan membeli panganan khas, Nur begitupun pengunjung lain memanfaatkan acara Lebaran Betawi untuk berfoto bersama Ondel-Ondel, berpakaian adat, dan membawa pulang hiasan Kembang Kelapa.

Begitupun dengan pengunjung lainnya, Arief (27), warga Jakarsa. Ia mengaku hanya pada Lebaran Betawi, penganan khas dapat dibeli dengan mudah.

"Ada Es Selendang Mayang dan Bir Pletok. Cocok diminum habis makan Nasi Ulam atau Toge Goreng," kata Arief.

Adanya acara seperti Lebaran Betawi ternyata tidak hanya menjadi ajang pembuktian eksistensi masyarakat asli ibukota, tetapi juga berfungsi sebagai wadah untuk menguatkan kebudayaan asli setempat.

Meski demikian, butuh perhatian khusus dari konsistensi dukungan pemerintah dalam hal pemberian akses pendanaan, sehingga Lebaran Betawi dapat dipastikan terlaksana tiap tahunnya.

Pewarta : Genta Tenri Mawangi
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar