Ini tiga zona di Lapangan Banteng yang perlu Anda tahu

id lapangan banteng,zona lapangan banteng,wagub dki jakarta,sandiaga uno

Suasana proyek revitalisasi kompleks Monumen Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (9/4/2018). Revitalisasi yang ditargetkan selesai akhir April 2018 tersebut meliputi pembangunan kolam air mancur dan tempat duduk luar ruang seperti "amphitheater" agar pengunjung bisa menikmati pertunjukan air mancur. (ANTARA /Andika Wahyu)

Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah memetakan kawasan Lapangan Banteng di Jakarta Pusat menjadi tiga zona yang bisa digunakan oleh publik.

"Saya ingin sampaikan bahwa kita ini ada tiga zona di Lapangan Banteng. Satu zona konservasi, jadi ini konservasi bahwa tugu pembebasan Irian Barat menjadi central dan ini mestinya menyatu dengan gedung Maramis yang menjadi pusat dan ini plazanya dulu," kata Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Salahuddin Uno di Lapangan Banteng, Senin.

Kedua adalah zona olahraga, zona olahraga di sini dibuka untuk publik dua minggu lagi. Dan ini akan digunakan oleh masyarakat.

Zona ketiga di Dinas Kehutanan dan Pertamanan adalah hutan kota di sebelah kanan, mendekati hotel Borobudur. Itu akan menjadi sanctuary nanti.

"Dan ini menarik karena taman ini adalah taman yang bisa mempersatukan. Ada Gereja Katedral, ada juga Mesjid Istiqlal dan juga Gereja Imanuel dekat sini," katanya.

Diharapkan jadi taman dan lapangan yang mempersatukan semua warga Jakarta. Ini akan digunakan sebagai showcase juga kemitraan pemerintah dan badan usaha.

"Nah jangan juga dipakai buat sembako murah lagi. Jangan juga dipakai untuk senam tanpa ijin pakai atribut-atribut tertentu. Tolong ini, saya sebutnya tahun 2018 - 2019 adalah tahun ekonomi pembangunan, tahun pembuka lapangan kerja dan tahun budaya. Jangan kita kotori," kata Sandiaga.

Mereka yang punya agenda silahkan punya agenda tapi tidak boleh dipakai di publik. Ruang publik ini milik bersama, mari dihormati, katanya.

Baca juga: Peserta Pameran Flora Lapangan Banteng mengeluh sepi

Pewarta : Susylo Asmalyah
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar