Pelajar SMA meninggal di Gunung Rinjani

id pendaki gunung tewas,gunung rinjani

Foto lansekap Gunung Rinjani di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Selasa (26/8). Pemprov NTB menargetkan Gunung Rinjani menjadi Geopark dunia pada tahun 2015. ANTARA FOTO/Andika Wahyu

Mataram (ANTARA News) - Fahrurrozi (19), pelajar SMAN 7 Mataram meninggal dunia dalam perjalanan turun dari puncak Gunung Rinjani, Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada Sabtu (21/4), sekitar pukul 13.15 WITA.

Kepala Resort Sembalun, Balai Taman Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) Taufikurrahman, ketika dihubungi dari Mataram, Minggu, mengatakan korban meninggal dunia diduga akibat kelelahan dan mengalami kaki keram disertai muntah darah dan kejang-kejang.

"Jenazah korban sudah dipulangkan ke rumah duka di Kelurahan Punia Saba, Kota Mataram, pada Sabtu (21/4), sekitar pukul 17.30 WITA. Namun, kondisinya sempat diperiksa oleh dokter yang kebetulan berada di pos 2 pendakian," katanya.

Pelajar yang tinggal menunggu pengumuman kelulusan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) itu, melakukan pendakian bersama tujuh rekannya, yakni Andre Yani, Zulkifli, Aldi, Zail, Ilham, Gilang, dan Wiwin. Mereka berangkat melalui Sembalun (Bawak Nao), Kabupaten Lombok Timur, sejak 18 April 2018, dengan program pendakian tiga malam.

Baca juga: UNESCO tetapkan Rinjani sebagai geopark dunia

Informasi yang diperoleh dari rekan korban, kata Taufikurrahman, ketika tiba di antara pos 2 dan 3 pendakian yang jaraknya sekitar 5 kilometer dari pintu masuk pendakian Sembalun, korban tiba-tiba mengalami keram disertai menggigil.

Petugas yang berada di Pos Pelawangan dan pos 2 kemudian memberikan informasi ke BTNGR melalui Resort Sembalun.

"Kami langsung mengirimkan dokter dan perawat untuk memberikan pertolongan pertama kepada korban yang sudah berada di pos 2 pendakian. Namun, korban tidak bisa tertolong," ujarnya.

Jenazah korban kemudian dibawa turun ke Sembalun, oleh tim dari BNTGR, bersama TNI Angkatan Darat dan anggota Polsek Sembalun, serta Edelweis Medical Help Center (EMHC), melalui Bawak Nao.

BTNGR mencatat jumlah kecelakaan pengunjung pada 2017 sebanyak 55 kejadian, terdiri atas 38 kali terjadi di jalur pendakian Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, dan 17 kali terjadi di jalur Senaru, Kabupaten Lombok Utara. Dari total kejadian kecelakaan pengunjung, sebanyak tiga orang meninggal dunia.

Baca juga: Tim gabungan evakuasi pendaki tewas di Gunung Lawu

Pewarta : Awaludin
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar