Belajar dari pewayangan dan pendidikan karakter

id Wayang, pendidikan karakter, nanang sumanang,Belajar dari pewayangan,wayang dan pendidikan karakter,pewayangan dan pendidikan karakter,falsafah wayang

Dalang muda Megan Yosa Pratama memaikan wayang kulit dengan lakon Wahyu Cakraningrat diiringi sinden cilik yang disiarkan secara daring di Kota Kediri, Jawa Timur, Rabu (16/9/2020). ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani/foc.

Jakarta (ANTARA) - Ojo milik barang kang elok, aja mangro mundak kendo. Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah, jangan berpikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat.

Selain sebagai transferer (pengalih) ilmu pengetahuan dan keterampilan, tugas utama guru yang sangat penting adalah transformer (pembentuk) karakter murid.

Dalam situasi pandemi seperti sekarang ini, di mana sebagian besar pembelajaran dilakukan secara online atau dalam jaringan (daring), pembelajaran jarak jauh (PJJ), guru harus terus-menerus menggali potensi-potensi yang ada di dalam dirinya dan potensi murid-muridnya.

Berbagai variasi materi dan media ajar harus banyak digunakan agar tujuan pendidikan yang berakar pada budaya bangsa bisa tercapai, yaitu menghasilkan manusia cerdas secara sosial dan akademik, bertakwa, berketerampilan, dan manusia yang berpijak pada bumi ibu pertiwi.

Isi pendidikan karakter yang termuat dalam setiap mata pelajaran yang diajarkan dalam Kurikulum 2013, sesungguhnya bisa digali dari kebudayaan dan kearifan lokal masyarakat setempat.

Kebudayaan dan kearifan lokal, selain dekat dengan kehidupan sehari-hari dari murid , menjadikannya sangat mudah dipahami dan dilaksanakan, karena akan dipantau oleh masyarakat yang memiliki budaya dan kearifan lokal tersebut.

Nantinya selain mempunyai karakter yang baik, murid juga diharapkan dapat menumbuh-kembangkan kecintaan pada budaya masyarakatnya dan akhirnya akan mempertebal rasa nasionalisme, yang cinta pada peradaban bangsanya.

Sebagai sebuah karya agung peradaban manusia Indonesia, wayang, dalam perjalanannnya telah mewarnai perjalan hidup bangsa Indonesia, bukan hanya dikenal oleh orang yang tinggal di Pulau Jawa, tapi juga sudah menjadi karya adi luhung lisan warisan kemanusiaan yang tak dapat dinilai (Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) oleh UNESCO pada tahun 2004.

Baik sebagai hiburan, maupun ajaran hidup, telah meresap ke dalam sanubari bangsa ini. Sebagai sebuah karya seni, wayang memiliki pengajaran seni yang teramat komplit; ada seni mengarang, seni olah vokal, seni lukis, seni ukir, seni sastra, seni tari, seni pahat, yang semuanya bisa membuat hati manusia lebih lembut dan peka terhadap lingkungan.

Dalam perjalanannya, wayang sangat terbuka bagi perubahan zaman. Pakem-pakem (aturan-aturan baku) yang wajib dipertahankan, tidak akan bisa menghalangi Dalang merespons situasi atau peristiwa-peristiwa kekinian yang diselipkan dalam cerita-ceritanya, atau membuat bentuk-bentuk baru wayang yang disesuaikan dengan bentuk-bentuk manusia kekinian.

Karena keterbukaannya itulah wayang bisa dimanfaatkan oleh siapa saja dan untuk kepentingan tertentu, terutama dalam penanaman nilai-nilai luhur dan pembentukan karakter suatu bangsa.

Baca juga: KBRI Bern gelar pertunjukan wayang virtual

Dalam hal ini wayang sangat bisa dimanfaatkan oleh para guru untuk menggali kreativitas, materi maupun media pembelajaran agar pesan-pesan moral yang tinggi yang ada dalam wayang bisa diperkenalkan kepada muridnya, dan menggugah kecintaan siswa pada budaya bangsa yang nantinya diharapkan melahirkan manusia-manusia berkarakter dan mempunyai nasionalisme yang tinggi.

Keterbukaan terhadap perkembangan zaman, serta pemanfaatan wayang untuk kepentingan penanaman nilai-nilai luhur ini bisa ditelusuri dari Sultan Demak yang pertama, Raden Fatah, telah mengubah bentuk bentuk wayang, serta cerita-cerita yang tidak sesuai dengan nilai-nilai keislaman, dengan tetap memperhatikan kesenangan masyarakat pada seni Wayang tersebut.

Ada tiga hal penting yang diubah oleh Raden Fatah yaitu: Bentuk Wayang yang menyerupai manusia, cerita-cerita dewa yang bertentangan dengan akidah Islam, serta cerita-cerita yang positif tapi tidak mengandung ajaran dakwah, maka di situ dimasukan misi dakwah seperti keimanan, ibadah dan akhlak.

Dalam perjalanannya juga Raden Fatah dan para wali menerima para tokoh dan kejadian dalam pewayangan hanyalah berupa lambang dan memberikan penafsiran-penafsiran baru pada tokoh dan peristiwa tersebut.

Baca juga: MPR sosialisasikan Empat Pilar melalui metode Wayang Golek

Karena Wayang itu merupakan wewayanganing ngaurip, pencerminan kehidupan semesta, maka dari mulai proses pembuatannya sudah mengandung ajaran moral dan pembentukan karakter yang bernilai tinggi.

R. Poedjosoebroto (1978) mengatakan bahwa Raden Fatah dan para wali sudah memikirkan sejak awal bagaimana semua proses wayang dari mulai pembuatan, pewarnaan, bentuk, cerita, tembang, musik, dan alat-alat pendukungnya haruslah bisa menyadarkan manusia kepada jati dirinya sebagi makhluk Tuhan Yang Maha Esa.

Dikatakannya lagi bahwa semua bentuk wayang Pandawa dan para ksatria pengikutnya itu dibuat dari kata Allah SWT dan Muhammad SAW, sementara untuk para Raksasa dan para “Penjahat” dalam wayang dibuat dari kata Iblis.

Dari proses ini sudah jelas bahwa “laa yastawi ash-haabun naari wa ash-haabul jannah ash haabul jannati humul faaizuun” (tidaklah sama penghuni neraka itu dengan penghuni surga, penghuni surge itu adalah orang-orang yang beruntung).

"Dari sini kita bisa ambil sebuah kesimpulan sederhana, bahwa para pemimpin, masyarakat dan alam raya sudah harus bisa memilih dan memilah mana orang yang baik dan orang yang tidak baik dengan standar keimanan, bukan kepentingan politik dan ekonomi, apalagi dengan memoles penjahat menjadi ksatria," demikian kutipan R. Poedjosoebroto .

Dengan kejelasan ini, maka pemimpin, masyarakat dan alam semesta bisa melihat dan menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Baca juga: Pesona lukisan wayang karya seniman muda Rusia

Kanjeng Sunan Kalijaga kemudian menyempurnakan wayang ini dengan menambahkan layar (kelir), gedebog pisang, dan blencong (lampu wayang). Ini mengingatkan kita bahwa hidup di dunia ini hanyalah sekadar bayang-bayang yang memainkan peran saja. Hidup sejatinya adalah nanti di akherat kelak. Pepatah Belanda mengatakan “Net of jezelf denkt, voelt, wilt of zelf doet, in wezen is het voorgedacht, voorgevoeld, voorgewild en voordaan”. Sepertinya engkau berpikir sendiri, merasa sendiri, berkehendak sendiri, atau berbuat sendiri, padahal hakekatnya itu semua sudah ditentukan oleh Tuhan.

Tidak ada peran besar atau peran kecil, yang adalah aktor besar atau aktor kecil, maka mainkanlah perankan kita dengan baik sesuai dengan status yang melekat pada diri kita, maka hidup kita akan bahagia, baik di dunia dan di akhirat nanti.

Kanjeng Sultan mengingatkan kita bahwa hidup di dunia itu bagaikan jalan di gedebog pisang (batang pisang) yang sangat licin, teramat sangat mudah sekali manusia tergelincir, jatuh pada kenistaan dan kehinaan. Agar wayang bisa berdiri tegak, dan tidak mudah tergelincir, maka wayang harus diberi cempurit (tangkai tajam/ tanduk) untuk ditancapkan pada gedebog pisang. Cempurit ini tidak boleh terlalu kaku, tetapi haruslah lentur, diartikan sebagai Daya Hidup dan Hidayat dari Allah SWT.

Dalam hidup ini, manusia harus bisa lentur dalam menghadapi hidup. Jangan mudah tergoda oleh sesuatu yang indah, gemerlap dan cantik karena bisa menjatuhkan. Jangan juga mudah berputus asa apabila ada masalah, niat harus dikuatkan untuk menggapai hidayah Allah SWT.

Blencong yang sederhana, sesungguhnya sudah bisa menjadi penerang bagi umat manusia dalam menjalani kehidupan ini. Disuruhnya manusia untuk membaca jagad gumelar (alam raya) dan jagad gumulung (alam diri sendiri ).

Baca juga: Dalang dari tiga negara pentaskan wayang kulit bersama secara virtual

Tanpa penerangan blencong maka manusia tidak akan bisa melihat macro cosmos/ jagad gumelar dan juga micro cosmos/ jagad gumulung.

Menurut RM Yunani Prawiranegara dan Ahmad Romawi (2011) untuk dapat membaca dan memahami jagad gumelar dan jagad gumulung dalam pewayangan harus dengan “Kebenaran yang Sejati” (ultimate truth) yang diyakini hanya milik Allah SWT semata. Untuk mendapatkan “Kebenaran Sejati” maka manusia harus dapat mencapai “Kesadaran sejati” (ultimate awareness), dan memiliki “Pengetahuan Sejati” (ultimate knowledge).

“Kesadaran Sejati” dan “Pengetahuan Sejati” bisa didapatkan kalau manusia bisa melihat “Kenyataan Sejati” (ultimate Reality) dengan cara mempersiapkan jiwa raganya, sehingga manusia yang kuat dan suci. Kedua adalah selalu memohon kepada Allah SWT agar dirinya menjadi terbuka bagi hal-hal tersebut di atas (tinarbuka) .

Gunungan yang melambangkan gunung, hutan, hewan dan isinya merupakan harta kekayaan bangsa Indonesia yang harus dilindungi dan dimuliakan, bukan untuk diekspolitasi. Gunung, hutan, ekosistim lainnya merupakan sumber kehidupan bagi bangsa ini.

Gunungan kemudian diturunkan menjadi tumpengan yang diisi dengan sayur mayur, buah-buahan dan sebagainya dan biasanya diadakan dalam kegiatan-kegiatan yang baik antara lain pada gerebeg Maulud, Gerebeg Sawal dan Grebeg Besar.

Kotak penyimpan wayang melambangkan tujuan akhir manusia yaitu akherat. Semua akan dimasukan dalam kotak tersebut, setelah pentas selesai. Maka bersyukurlah manusia yang mengerti asal-usul, apa yang harus dilakukan di dunia ini dan tujuan akhir dari hidup (sangkan paraning dumadi).

Baca juga: Petang ini ada pentas kenang maestro dalang wayang kulit Ki Nartosabdo

*) Nanang Sumanang adalah Guru Sekolah Indonesia Davao

Pewarta : Nanang Sumanang *)
Editor: Tunggul Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar