Penutupan akses di Wuhan hambat perkuliahan mahasiswa UB di China

id Wuhan, virus corona,mahasiswa UB di Chinaa

Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB), Didiet Afandi ketika sedang menempuh S3 di Huazhong University of Science and Technology di Wuhan, China, (ANTARA/HO/UNIVERSITAS BRAWIJAYA)

Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Penutupan akses di beberapa wilayah di China menghambat perkuliahan sejumlah mahasiswa asal Indonesia dan berbagai negara lainnya, termasuk mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang.

Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB), Didiet Afandi yang sedang menempuh S3 di Huazhong University of Science and Technology di Wuhan, China, Rabu, mengatakan seharusnya pekan lalu ia kembali ke Huazhong China untuk memulai perkuliahan, namun karena akses ditutup oleh pemerintah setempat, sistem perkuliahan diundur sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Saat ini, kata dia, sebagian dosen dan mahasiswa UB yang studi di China sedang mengambil liburan semester di Indonesia dan belum kembali ke China, dan dalam kondisi aman.

"Saat saya masih di China dari Desember 2019 sampai awal Januari 2020, enam mahasiswa UB masih di Indonesia dan belum kembali ke China," kata Didiet.

Didiet mengatakan pada awal-awal tahun ia kembali ke Indonesia, kondisi di China sedang musim dingin dan tidak banyak aktivitas keluar.

"Waktu awal-awal tahun kemarin baru ada dua warga yang terindikasi virus Corona. Saat itu, kondisi sedang musim dingin dan tidak banyak aktivitas, karena saya pikir banyak warga lagi liburan dan pulang ke desa merayakan imlek. Kebetulan saya tinggal di pusat kotanya," kata Didiet.

Baca juga: Antisipasi corona, bandara di Malang tingkatkan pengawasan

Baca juga: Pemerintah Aceh imbau mahasiswa di China tidak resah

Baca juga: Pemerintah Aceh kirim lagi Rp50 juta untuk mahasiswa di Wuhan


Dia menceritakan saat ini pemerintah setempat sedang memproteksi Wuhan dari seluruh kegiatan agar virus corona tidak menyebar kemana-mana.

"Terakhir teman-teman disana koordinasi dengan KBRI dan beberapa ingin pulang, namun pemerintah setempat sedang menutup akses agar tidak menyebar. Disana bus dan kereta api tidak jalan. Aktivitas sementara hanya di dalam ruangan saja," tuturnya.

Sementara itu dokter FK UB, Kurniawan Taufiq Kadafi menjelaskan bahwa berdasarkan riset dan laporan dari www.thelanset.com, Coronavirus sempat berkembang beberapa tahun lalu dalam bentuk SARS dan MERS dan saat ini disebut sebagai 2019-Novel Coronavirus (2019-nCov).

Pada 1 Januari lalu ada sebuah pasar ikan ditutup karena diduga terkontaminasi hewan dengan virus corona.

Perjalanan virus ini cukup cepat karena pasien yang terinfeksi virus corona akan masuk ICU dalam jangka waktu lima hari.

"Masa inkubasinya dua sampai enam hari dan pada hari kesembilan mengalami sesak nafas lalu memberat dan ada ancaman gagal nafas, hari kesepuluh masuk ICU, dan rata-rata mengalami gejala penumonia (radang paru), yaitu batuk sesak dan kemudian ada demam," katanya.

Virus yang paling banyak menyerang warga usia 25 sampai 49 tahun tersebut, bisa diantisipasi dengan beberapa hal, di antaranya tidak boleh panik, tetap waspada, menjaga kebersihan tangan dalam waktu 20 detik, menghindari mengusap mata, hidung atau mulut setelah memegang pasien, menutup mulut dan hidung menggunakan tisu setelah bersin, menggunakan masker bila mengalami gangguan saluran napas.

"Untuk mengantisipasi penyebaran virus corona, Rumah Sakit Syaiful Anwar (RSSA) Malang juga akan mengadakan simulasi penanganan pasien yang terinfeksi virus tersebut," katanya.*

Baca juga: 20 mahasiswa Kaltara di Wuhan dilaporkan aman

Baca juga: Orangtua mahasiswa yang kuliah di China harap bantuan dari pemerintah

Baca juga: Kondisi kesehatan mahasiswa Indonesia dipantau universitas di China

Pewarta : Endang Sukarelawati
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar