Malaysia ikut bantu pencarian korban kapal tenggelam di perairan Riau

id kapal tenggelam,tki hilang,kapal TKI tenggelam,kapal TKI tenggelam di Riau

Peta pencarian korban kapal tenggelam di Selat Malaka. (ANTARA/HO-Basarnas Pekanbaru)

Pekanbaru (ANTARA) - Pihak SAR Malaysia ikut membantu pencarian korban hilang dari kecelakaan kapal kayu (pompong) di Selat Malaka tak jauh dari perairan Provinsi Riau.

Humas Kantor Basarnas Pekanbaru, Kukuh Widodo, di Pekanbaru, Jumat, mengatakan SAR Malaysia mengerahkan personel untuk membantu pencarian korban hilang yang diduga masih berjumlah sembilan orang.

Malaysia mengerahkan satu unit RIB (Rigid inflatable Boat) dan satu helikopter Super Puma. Proses pencarian dari pihak Indonesia juga menggunakan dua kapal dan bantuan heli Super Puma TNI AU.

"Pencarian hari ke 3 masih seperti kemaren, menggunakan Helly Super Puma, KN 218 Dumai dan RIB serta dari Malaysia juga menggunakan RIB dan Helly, masing-masing mencari di wilayah perairannya," kata Kukuh.

Hingga pagi ini masih ada sembilan orang hilang, setelah Kamis (23/1) ada satu korban yang ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Jenazah korban ditemukan mengapung, tanpa pelampung dan kartu identitas. Jenazah telah dibawa ke Kota Dumai, Provinsi Riau.

Diduga kapal pompong yang tenggelam tersebut mengangkut 20 orang tenaga kerja Indonesia (TKI). Kepala Basarnas Pekanbaru, Ishak, menjelaskan seluruh TKI yang hendak menuju negeri jiran tersebut diketahui berangkat dari Pulau Rupat Kabupaten Bengkalis pada Selasa (21/1) malam sekira pukul 21.30 WIB.

Sebanyak 10 penumpang ditemukan dalam kondisi selamat oleh nelayan di perairan Kabupaten Bengkalis.

Karamnya kapal yang mengangkut penumpang rata-rata dari Provinsi Sumatera Utara tersebut diduga karena mengalami kebocoran.
Baca juga: Helikopter TNI AU dukung pencarian TKI korban kecelakaan kapal di Riau
Baca juga: Tim SAR temukan satu TKI dari kapal tenggelam di perairan Riau
Baca juga: Basarnas Pekanbaru: 10 TKI penumpang kapal yang tenggelam ditemukan

Pewarta : FB Anggoro
Editor: Tunggul Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar