Terpilih jadi Menag, Rektor UIN Suka siap sertifikasi khatib

id yudian wahyudi,rektor uin,yogyakarta,menteri agama

Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Yudian Wahyudi di sela acara Pembukaan Peringatan Hari Santri Nasional di Gedung Prof Dr H M Amin Abdullah UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Rabu. (FOTO ANTARA/Luqman Hakim)

Yogyakarta (ANTARA) - Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Yudian Wahyudi mengatakan apabila dipilih sebagai Menteri Agama (Menag) dalam Kabinet Kerja Jilid II dirinya siap mewujudkan program sertifikasi khatib atau penceramah shalat Jumat dalam rangka memberantas radikalisme.

Pada Juli 2019, Forum Rektor Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) menyepakati dua nama untuk diajukan menjadi calon Menag. Calon pertama adalah dirinya selaku Rektor UIN Sunan Kalijaga, calon kedua adalah Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Fauzul Iman.

"Misalnya, kalau bener ini ya, saya belum tahu kan, tunggu beberapa hari lagi. Tapi andai kata benar saya jadi menteri (Menag) itu akan saya sertifikasi para khatib," kata Yudian di sela acara Pembukaan Peringatan Hari Santri Nasional di Gedung Prof Dr H M Amin Abdullah UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Rabu.

Baca juga: Presiden Jokowi: Masih akan ada muka lama di kabinet baru

Menurut Yudian, penceramah di masjid-masjid BUMN harus mendapatkan izin dari pemerintah. Demikian juga dengan penceramah di masjid-masjid sekolah negeri mulai dari sekolah dasar (SD) hingga perguruan tinggi.

"Kita akan tertibkan, tidak bisa lagi hanya main sepihak. Andai kata benar (menjadi Menag) lho itu, akan bekerja sama dengan kepolisian dan sebagainya," kata dia.

Baca juga: Presiden Jokowi diharapkan perbanyak menteri dari kalangan profesional

Menurut Yudian, program itu memang hanya bisa ia wujudkan apabila dirinya dipilih sebagai Menag. Kendati siap menjalankan tugas sebaik-baiknya jika menjabat Menag, ia menegaskan tidak akan pernah melakukan lobi-lobi politik untuk masuk kabinet.

"Kalau tidak Menag nanti saya didalili (diceramahi dengan dalil). Kalau tidak Menag tidak punya otoritas untuk itu," kata dia.

Yudian menilai bahaya radikalisme di Indonesia harus segera ditindaklanjuti hingga ke akarnya. Peristiwa teroris penusukan terhadap Menkopolhukam Wiranto beberapa waktu lalu telah menunjukkan bahwa bahaya radikalisme masuk level satu atau darurat.

"Ini menunjukkan eskalasinya mereka (teroris) sangat berani dan mereka sangat mengejar sasaran-sasaran tingkat tinggi. Kalau tingkat tinggi saja kena, yang tingkat bawah kena tidak nanti? itu masalahnya," kata Yudian.

Sebelumnya, Menag RI Lukman Hakim Saifuddin juga pernah mengangkat wacana sertifikasi khatib atau penceramah shalat Jumat. Hingga kini wacana yang bersumber dari aspirasi masyarakat itu belum diterapkan dan masih dalam kajian.

Baca juga: Rektor UIN buat kebijakan baru terkait cadar

Pewarta : Luqman Hakim
Editor: Nurul Hayat
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar