Lapan dan BPPT lakukan riset roket untuk modifikasi cuaca

id modifikasi cuaca,operasi hujan buatan,teknologi modifikasi cuaca,riset roket untuk modifikasi cuaca

Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Tri Handoko Seto menyampaikan keterangan kepada wartawan di Kantor BPPT, Jakarta, Jumat (4/10/2019). ANTARA/Martha Herlinawati Simanjuntak/aa.

Jakarta (ANTARA) - Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin mengatakan saat ini Lapan bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sedang melakukan riset untuk menciptakan roket guna keperluan modifikasi cuaca.

"Kalau itu (roket untuk modifikasi cuaca) bisa terlaksana setidaknya prosedurnya tentu lebih sederhana walaupun dari segi kemampuannya mungkin tidak seluas dengan menggunakan pesawat terbang," kata Thomas kepada ANTARA di Jakarta, Senin.

Menurut Thomas, roket untuk modifikasi cuaca ini akan memiliki kemampuan yang berbeda dengan penggunaan pesawat guna membawa dan menyemai bahan semai dalam rangka teknologi modifikasi cuaca (TMC) dalam menciptakan hujan buatan. Pesawat terbang bisa membawa bahan semai atau garam dalam jumlah besar, sementara roket tidak sebanyak yang bisa dibawa pesawat terbang.

Untuk itu, masih perlu pengkajian dan penelitian lebih lanjut guna merancang dan menciptakan roket dengan spesifikasi bagi modifikasi cuaca.

Selain itu, bahan semai yang akan dibawa dan disemai oleh roket pada saat ada awan potensial juga akan dimodifikasi sehingga memungkinkan untuk dibawa dan diluncurkan roket.

"Kalau dengan menggunakan roket tentu jenis bahan kimianya berbeda karena itu nanti jenis penaburannya pun berbeda, itu memang yang sedang dikaji supaya kita punya alternatif lain untuk bisa memicu modifikasi cuaca," ujarnya.

Thomas menuturkan jenis bahan kimia yang akan disemai kemungkinan berbeda dari yang biasa dibawa pesawat terbang dengan sistem penaburan garam.

"Tapi diharapkan bisa lebih efektif artinya tidak semasif dengan menggunakan pesawat terbang tetapi diharapkan itu lebih cepat dengan roket," tutur Thomas.

Roket untuk modifikasi cuaca ini diharapkan akan menjadi alternatif dalam melaksanakan operasi hujan buatan. Keberhasilan dari teknologi modifikasi cuaca juga bergantung pada pertumbuhan awan, yang kadang-kadang kondisi awan itu cepat berubah dan dapat menghilang dalam satu dan dua hari, dan kabut asap juga menjadi tantangan, sementara persiapan pesawat terbang untuk operasi hujan buatan dengan skala besar juga memerlukan waktu dan sumber daya yang juga besar termasuk tenaga manusia yang memahami TMC.

Namun, jika nanti dapat dikembangkan roket untuk modifikasi cuaca maka meski skala penaburannya kecil tapi prosesnya bisa lebih cepat dan masif. Roket-roket yang membawa bahan semai kimia dapat langsung diluncurkan dan menabur bahan semai ke daerah mana saja yang dituju sehingga menjangkau area sasaran akan lebih cepat.
Baca juga: BPPT pertimbangkan gunakan roket untuk hujan buatan
Baca juga: BPPT dan BMKG kerja sama pengembangan TMC berbasis kecerdasan buatan
Baca juga: BPPT: Asap halangi pembentukan awan hujan

Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Tunggul Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar