BPPT: Kejar peradaban teknologi untuk kemandirian bangsa

id Bj habibie,Hammam riza,Obituari habibie

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza berbicara kepada wartawan. ANTARA/Martha Herlinawati Simanjuntak/am.

Banten (ANTARA) - Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza mngatakan Presiden ketiga Republik Indonesia Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie mendorong semua pihak mengejar peradaban teknologi untuk kemandirian bangsa Indonesia, salah satunya melalui "reverse engineering".

"Jika ingin negara ini menjadi negara yang modern dan disegani oleh negara lain, maka jawabannya kuasai teknologi dan siapkan sumber daya manusia serta infrastrukturnya," kata Hammam yang mengutip pesan Habibie dalam acara Pembacaan Obituari BPPT untuk BJ Habibie di Puspiptek Serpong, Tangerang, Banten, Rabu.

Habibie menilai transformasi industri akan memakan waktu terlalu lama kalau semua dimulai dari penelitian dasar. Oleh karena itu, kemampuan dan kesiapan sumber daya manusia, sarana dan prasarana teknologi yang ada pada saat itu sangat minim.
Baca juga: Habibie wafat - Rektor IPB: Habibie bapak kemandirian teknologi

Habibie yang dikenang sebagai bapak teknologi Indonesia itu mengatakan Indonesia tidak bisa membuat sebuah penemuan ulang (riset dasar) sesuatu teknologi yang sudah lama ditemukan bangsa lain, dan pasti akan selalu tertinggal. Karena negara maju sudah lama menemukan dan menggeluti teknologi canggih dan semakin canggih dari waktu ke waktu.

Lompatan ke teknologi termutakhir tersebut diiplementasikan, misalnya, dengan langsung berfokus pada penguasaan teknologi dan industri pesawat terbang (IPTN). Setelah itu, ia berkeyakinan menguasai industri di bawahnya menjadi lebih mudah dan lebih cepat. Di sinilah reverse engineering dan pengembangan teknologi dilakukan.

Habibie membawa Indonesia kala itu, menuju negara industri berteknologi tinggi. Caranya dengan mendorong lompatan dalam strategi pembangunan, yakni melompat dari agraris langsung menuju negara industri maju. Sejak itu, kegiatan perekayasaan lebih terfokus untuk menghasilkan teknologi yang diterapkan bagi keperluan pembangunan.

Hal tersebut dibuktikan Prof. Habibie dengan melakukan adaptasi teknologi, berupa perakitan dan produksi pesawat C-212. Kemudian mulai menunjukkan penguasaan teknologi dengan pembuatan pesawat CN-235 sebagai kerja bersama Cassa (C) Spanyol dengan Nurtanio (N). Hingga pada akhirnya pengembangan secara mandiri dapat diwujudkan dengan hadirnya pesawat N-250, karya anak bangsa.
Baca juga: BPPT dorong kemandirian bangsa dalam penerapan teknologi

Kehadiran N-250 juga berarti keberhasilan untuk membuka lapangan kerja baru. Habibie kala itu menggambarkan keuntungan menguasai teknologi tinggi, dengan mengibaratkan cukup dengan 17 unit pesawat yang dibuat industri dalam negeri, sudah lebih menguntungkan dibanding hasil produksi sebagai negara agraris sebelumnya.

Secara awamnya seperti dikatakan BJ Habibie setiap kali berdiskusi dengan para perekayasa atau peneliti-peneliti muda, kalau bisa membuat pesawat terbang, maka pasti bisa membuat mobil, kapal, kereta api dan senjata. Dan negara-negara lain akan segan dengan negara Indonesia.

Reverse engineering tersebut dilakukan oleh China dalam membuat kereta cepat. Chine membeli teknologi dan lisensi dari Jerman untuk kereta cepat. Kemudian, melakukan reverse engineering. Hingga akhirnya bisa memproduksi sendiri dan produknya diserap pasar domestik. Tak berhenti di situ, China melakukan pengembangan lanjutan hingga mampu mengekspor kereta cepat dengan harga bersaing.
Baca juga: Wapres : Tujuan Penguasaan Teknologi Adalah Kemandirian

 

Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar