Menperin: Mobil listrik bisa berdampingan dengan mandatori biodiesel

id mobil listrik,mandatori biodiesel,aprobi,gaikindo,airlangga hartarto

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto usai menghadiri diskusi di Jakarta, Selasa (20/8/2019). ANTARA/Mentari Dwi Gayati

Jakarta (ANTARA) - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa upaya pemerintah untuk mendorong penggunaan mobil listrik dapat berjalan berdampingan dengan program  mandatori biodiesel hingga B100 pada 2021-2022.

Menteri Airlangga menjelaskan bahwa pemerintah hanya menargetkan sekitar 20 persen kendaraan listrik yang beredar pada 2025, sedangkan sisanya kendaraan berbasis bahan bakar.

"Pengembangannya (keduanya) listrik dan biofuel. Kendaraan listrik kan 20 persen tahun 2025, yang 80 persen masih berbasis bahan bakar," kata Menteri Airlangga usai menghadiri diskusi di Jakarta, Selasa.

Airlangga menjelaskan bahwa selain mobil listrik, pemerintah juga mendorong industri untuk mengembangkan kendaraan berbahan bakar fleksibel atau (flexy fuel engine).

Kendaraan berbahan bakar fleksibel ini seperti mobil bermesin konvensional, namun dapat diisi bahan bakar nabati (biofuel) jenis biodiesel dengan campuran minyak kelapa sawit (CPO) 20 persen (B20) atau bioetanol dari tebu.

Senada dengan itu, Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Yohannes Nangoi menjelaskan tren penggunaan kendaraan bermesin pembakaran dalam atau dikenal internal combustion engine (ICE) masih akan tetap moncer dalam beberapa puluh tahun ke depan.

Menurut dia, penggunaan kendaraan berbahan bakar biodiesel selain lebih ramah lingkungan, juga dapat mengurangi impor bahan bakar fosil dari minyak bumi.

"Dengan bahan bakar biodiesel yang lebih bersih, hemat bahan bakar, dan emisinya bagus, bisa menghemat devisa negara. Kenapa tidak? Jadi ICE jalan, mobil listrik juga kita siapkan. Nanti pelan-pelan berubah ya kita siap," kata Yohannes.

Sementara itu, Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan menjelaskan bahwa hingga 10 tahun ke depan, meski penerapan mobil listrik dijalankan, kendaraan berbasis biodiesel tetap masih bisa berkembang.

Pasar biodiesel pun menurut dia juga masih luas di golongan kendaraan besar, seperti bus antarkota, truk pick up, hingga alat berat. Bahkan, ke depan, PT PLN akan menyasar biodiesel sebagai pembangkit listrik.

"Sebagian mobil listrik kan mengarahnya pertama-tama pada mobil sedan, yang tidak memakai biodiesel juga. Biodiesel kan kebanyakan dipakai oleh sebagian besar truk dan bus. Bahkan nanti bisa untuk pembangkit PLN," kata Paulus.

Baca juga: Indef: Penerapan mobil listrik dan biodiesel bisa berjalan bersamaan
Baca juga: Nasir: industri komponen mobil listrik dipicu dengan pengurangan pajak
Baca juga: BPTJ: dua ribu bus listrik mulai diproduksi 2020

Pewarta : Mentari Dwi Gayati
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar