KLHK gencarkan sosialisasi pembukaan lahan tanpa bakar cegah karhutla

id kabut asap,karhutla meningkat,Kementerian lhk,bnpb,satelit lapan

Kebakaran hutan (Dok. ANTARA)

Jakarta (ANTARA) - Badan Litbang dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menggencarkan sosialisasi teknologi pembukaan lahan tanpa bakar untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang semakin meningkat.

"Memang tahu risiko kebakaran tinggi di bulan-bulan ini. Badan Litbang dan Inovasi punya teknologi inovasi yang dapat mencegah kebakaran hutan dan lahan. Teknologi seperti paludikultur dan Pembukaan Lahan Tanpa Bakar itu yang disosialisasikan," kata Kepala Balitbang dan Inovasi KLHK Agus Justianto di Jakarta, Rabu.

Tidak hanya dua itu, menurut Agus,  pihaknya punya penelitian-penelitian terkait kebakaran hutan dan lahan yang menghasilkan teknik-teknik pemadaman. Lalu ada pengembangan jenis tanaman yang adaptif terhadap genangan, sehingga tidak perlu mengeringkan lahan gambut.

Kepala Pusat Hasil Hutan Badan Litbang KLHK Dwi Sudharto mengatakan pengembangan teknologi dan inovasi untuk mendukung pelaksanaan pembukaan lahan tanpa bakar juga ada, contohnya pemanfaatan mikroba untuk penyubur tanah sehingga petani tidak perlu membakar untuk berladang. Ada juga asap cair yang dapat menyuburkan tanah yang dikembangkan di Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Ketapang.

"Testimoni baik dari sana sudah ada. Malah masyarakat di sana yang akhirnya melarang untuk membakar saat bertani," katanya.

Berdasarkan pantauan katalog modis dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) yang diaskes Rabu pagi, dalam 24 jam terakhir terdapat 691 titik panas kategori tinggi dan sedang di seluruh Indonesia. Sebaran titik panas kategori tinggi dan sedang terbanyak berada di Kalimantan Barat 234 dan Kalimantan Tengah 145 titik.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo mengatakan kekuatan udara untuk menghadapi ancaman karhutla yang lebih besar telah ditambah.

"Sebelumnya ada 34 unit helikopter yang dioperasikan di beberapa wilayah di Indonesia. Saat ini ditambah menjadi 36 unit helikopter yang digunakan untuk pengeboman air dan patroli," kata Agus.

Baca juga: Pembakaran lahan di Palangka Raya sengaja dan diduga terorganisasi
Baca juga: Pemerintah setop pemberian izin kelola baru di hutan primer dan gambut

Pewarta : Virna P Setyorini
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar