Kepala BNPB gagas monumen pengingat bencana

id Kesiapsiagaan Bencana,Ekspedisi Destana Tsunami,Tsunami,Gempa,BNPB,Doni Monardo

Ilustrasi - Relawan tim gabungan melakukan evakuasi korban saat simulasi gempa bumi berpotensi tsunami di Mataram, NTB, Selasa (13/8/2019). ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/nz.

Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo menggagas pembangunan monumen tentang peristiwa bencana alam yang terjadi di masing-masing daerah.

"Gempa dan tsunami adalah peristiwa alam yang berulang dan kita memiliki dokumentasi. Namun, dokumentasi yang lebih lengkap ada di Belanda," kata dia melalui siaran pers yang diterima di Jakarta, Rabu.

Doni mengatakan monumen tentang bencana alam akan memudahkan masyarakat setempat untuk mengingat peristiwa yang pernah terjadi sebelumnya.

Bencana, kata dia, tidak dapat dihindari, tetapi dapat dikurangi risikonya.

Konsep pentahelix yang digagas Doni, yaitu keterlibatan pemerintah, akademisi, masyarakat, lembaga usaha, dan media harus dapat menyosialisasikan kesiapsiagaan bencana.

Di tingkat desa, katanya, para perangkat desa dapat menjadi garda terdepan dalam memberikan sosialisasi tentang kesiapsiagaan bencana kepada masyarakatnya.

"Yang penting masyarakat menyadari potensi bencana yang ada. Bisa memahami dan mampu melakukan pencegahan, tangguh dan mampu menyelamatkan diri dari bencana," tuturnya.

Salah satu upaya BNPB untuk menyosialisasikan kesiapsiagaan bencana adalah dengan mengadakan Ekspedisi Desa Tangguh Bencana (Destana) Tsunami di desa-desa yang ada di pesisir selatan Jawa.

Dari 518 desa yang menjadi sasaran, hanya tercapai 512 desa karena ada beberapa kendala yang dihadapi di lapangan, termasuk penolakan dari kepala desa dan perangkat desa.

Tim ekspedisi menemukan tingkat kesiapsiagaan di beberapa daerah sudah cukup baik, terutama daerah-daerah yang pernah mengalami tsunami.

Baca juga: Ekspedisi Destana Tsunami BNPB jangkau 512 desa
Baca juga: BNPB: Ekspedisi Destana Tsunami untuk perkaya literatur kebencanaan

Pewarta : Dewanto Samodro
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar