Logo Header Antaranews Lampung

BI Lampung sebut hilirisasi kurangi kerentanan fluktuasi harga komoditas

Selasa, 16 Juni 2026 13:53 WIB
Image Print
Ilustrasi- Petani kopi asal Kabupaten Lampung Barat sedang mengolah buah kopi menjadi biji kopi. ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi.
Aktivitas atau program hilirisasi merupakan salah satu langkah untuk menciptakan nilai tambah dari sebuah komoditas menjadi produk turunan

Bandarlampung (ANTARA) - Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Lampung Bimo Epyanto mengatakan bahwa adanya program hilirisasi dapat mengurangi kerentanan komoditas terkait adanya fluktuasi harga.

"Aktivitas atau program hilirisasi merupakan salah satu langkah untuk menciptakan nilai tambah dari sebuah komoditas menjadi produk turunan. Dan yang pasti harga produk nantinya akan meningkat dari pada dijual dalam bentuk bahan mentah," ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung Bimo Epyanto di Bandarlampung, Selasa.

Ia mengatakan bahwa adanya program hilirisasi yang menciptakan nilai tambah pada komoditas, juga akan mengurangi kerentanan komoditas terhadap fluktuasi harga bahan mentah yang kerap terjadi.

"Jadi karena sudah ada pengolahan menjadi produk turunan ini akan mengurangi kerentanan terhadap fluktuasi harga komoditas, terutama saat komoditas yang dikonsumsi benar-benar habis," katanya.

Dia menjelaskan dengan kondisi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS yang cukup tinggi, dapat dimanfaatkan untuk menjual berbagai produk turunan dari komoditas unggul daerah ke pasar ekspor.

"Sebenarnya secara normatif bisa dibilang kondisi pelemahan nilai tukar ini berdampak positif karena komoditas yang berpeluang ekspor, seperti kopi dan kakao, bisa menciptakan penambahan pendapatan karena transaksi dilakukan menggunakan valas," ucap dia.

Menurut dia, hal tersebut menciptakan peluang pendapatan bagi petani untuk mendapatkan peningkatan pendapatan melalui ekspor komoditas dan produk turunannya.

"Tentu kami akan berupaya menciptakan peluang-peluang melalui program hilirisasi ataupun pendampingan ekspor untuk memastikan komoditas lokal tetap produktif," tambahnya.

Diketahui Pemerintah Provinsi Lampung terus mendorong terciptanya hilirisasi komoditas yang dimulai dari desa, dan upaya yang dilakukan yakni dengan pengembangan fasilitas pengering komoditas di 500 desa sentra produksi komoditas, mengembangkan program pupuk organik cair di 2.000 desa untuk meningkatkan produktivitas lahan.

Kemudian melakukan penguatan badan usaha milik desa (BUMDes) agar mampu menjadi offtaker komoditas lokal, dan saat ini telah ada 2.300 BUMDes yang berbadan hukum.

Bahkan Lampung pun akan menjadi daerah penghasil bioethanol dengan target produksi mencapai 240 ribu kiloliter per tahun dengan pembangunan kawasan pabrik bioethanol seluas 21 hektare yang mengelola berbagai komoditas mentah penghasil bioethanol, salah satunya ubi kayu.



Pewarta :
Editor: Agus Wira Sukarta
COPYRIGHT © ANTARA 2026