Logo Header Antaranews Lampung

BI Lampung dorong investasi hilirisasi jaga momentum ekonomi daerah

Selasa, 28 April 2026 21:33 WIB
Image Print
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung Bimo Epyanto saat menghadiri kegiatan Desiminasi Laporan Perekonomian Lampung Semester I Tahun 2026, di Pesawaran, Lampung, Selasa (28/4/2026). (ANTARA/HO-BI Lampung)
Investasi tidak hanya terbatas pada pembangunan fisik pabrik besar, melainkan juga pada penguatan model bisnis dari hulu ke hilir

Bandarlampung (ANTARA) - Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Lampung, Bimo Epyanto, mendorong peningkatan kapasitas ekonomi melalui investasi di sektor hilirisasi untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di provinsi ini.

"Investasi tidak hanya terbatas pada pembangunan fisik pabrik besar, melainkan juga pada penguatan model bisnis dari hulu ke hilir," katanya dalam keterangan yang diterima di Bandarlampung, Selasa.

Menurutnya, hilirisasi harus mampu memberikan nilai tambah pada produk-produk unggulan daerah agar manfaat ekonominya tetap berada di Lampung.

"Saya beri gambaran mengenai keberhasilan komoditas di daerah lain, seperti cabai di Garut, Jawa Barat, yang diolah menjadi produk turunan, sebagai model yang bisa di contoh Lampung," katanya.

Dia mengatakan, dalam upaya menarik investor, beberapa poin penting yang harus diselesaikan oleh pemerintah daerah, seperti penyusunan RDTR (Rencana Detail Tata Ruang) dan RTRW.

"Kedua hal tersebut menjadi kunci utama untuk memberikan kepastian hukum bagi pelaku usaha yang ingin membangun industri pengolahan. Tentunya diperlukan pengaturan tata niaga yang seimbang agar kebutuhan bahan baku untuk industri hilirisasi lokal tetap terpenuhi," ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, penguatan kapasitas petani melalui sekolah lapangan sangat penting untuk memitigasi risiko gagal panen akibat perubahan iklim, terutama pada komoditas hortikultura yang sensitif.

"Kami yakin dengan proyeksi ekonomi Lampung di Tahun 2026 dan optimistis pertumbuhan ekonomi dapat terjaga," kata dia.

Namun, begitu Bimo mengingatkan bahwa tantangan akan semakin besar karena basis pertumbuhan pada periode sebelumnya sudah cukup tinggi.

"Untuk mencapai pertumbuhan yang lebih tinggi, kita membutuhkan peningkatan kapasitas melalui investasi-investasi baru dan penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi baru," ujar kata dia.



Pewarta :
Editor: Agus Wira Sukarta
COPYRIGHT © ANTARA 2026