Logo Header Antaranews Lampung

Bulog Lampung targetkan serap 120.000 ton jagung lokal

Kamis, 2 April 2026 17:40 WIB
Image Print
Pimpinan Wilayah Perum Bulog Kantor Wilayah Lampung Rindo Safutra, saat audiensi dengan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan di ruang kerja Sekretaris Daerah, Kantor Bupati setempat. ANTARA/HO/Kominfo Lampung Selatan
Ke depan, Bulog menargetkan penyerapan jagung mencapai 120.000 ton

Lampung Selatan (ANTARA) - Pimpinan Wilayah Perum Bulog Kantor Wilayah (Kanwil) Lampung Rindo Safutra menargetkan penyerapan jagung lokal sebanyak 120.000 ton pada 2026 sebagai upaya menjaga ketersediaan dan stabilitas stok pangan di daerah tersebut.

Hal tersebut disampaikan Rindo Safutra saat audiensi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan dan Perum Bulog di ruang kerja Sekretaris Daerah, Kantor Bupati setempat, Rabu (1/4).

“Ke depan, Bulog menargetkan penyerapan jagung mencapai 120.000 ton, dengan kontribusi utama dari Kabupaten Lampung Timur dan Lampung Selatan,” kata Rindo Safutra di Kalianda Kamis.

Menurutnya, penyerapan jagung menunjukkan tren positif. Dari 2.700 ton yang diserap di Provinsi Lampung sepanjang 2026, sekitar 1.000 ton berasal dari Kabupaten Lampung Selatan.

“Kami berharap kerja sama semua pihak dapat meningkatkan penyerapan jagung agar hasil petani terserap maksimal,” ujarnya.

Tidak hanya jagung, kata dia, hingga 1 April 2026, Bulog mencatat serapan gabah dari petani di Lampung Selatan mencapai 80.000 ton atau setara 41.000 ton beras. Angka tersebut diperkirakan masih akan bertambah, karena April menjadi puncak panen raya.

“Serapan masih terus berjalan. Momentum panen raya ini kami optimalkan untuk memenuhi target,” ujar dia.

Oleh karena itu, ia memastikan ketersediaan beras dalam kondisi aman, seiring capaian serapan gabah yang cukup tinggi selama musim panen.

Sementara itu, Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Lampung Selatan Tri Umaryani menilai kebutuhan jagung di daerah tersebut masih cukup tinggi, meskipun stok beras relatif mencukupi.

“Saya menekankan pentingnya menjaga stabilitas harga di tingkat petani agar produksi yang melimpah tidak justru merugikan mereka,” kata Tri Umaryani.



Pewarta :
Editor: Agus Wira Sukarta
COPYRIGHT © ANTARA 2026