KEHATI galang dukungan untuk lestarikan 162 jenis bambu di Indonesia

id pelestarian bambu,bambu indonesia,manfaat bambu

KEHATI galang dukungan untuk lestarikan 162 jenis bambu di Indonesia

Arsip Foto. Kawasan Hutan Bambu di Keputih, Surabaya, Jawa Timur. (ANTARA FOTO/Febri Angga Palguna)

Jakarta (ANTARA) - Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) menggalang dukungan untuk melestarikan 162 jenis bambu yang ada di Indonesia.

Sebagaimana dikutip dalam siaran pers yayasan yang diterima di Jakarta, Jumat, Manajer Program Pertanian Yayasan KEHATI Puji Sumedi Hanggarawati mengatakan bahwa dari 1.439 jenis bambu yang ada di dunia sebanyak 162 di antaranya tumbuh di Indonesia.

Puji menuturkan, sejak dulu masyarakat Indonesia telah menggunakan bambu untuk berbagai keperluan, termasuk untuk membangun rumah dan sarana transportasi; membuat senjata, alat rumah tangga, hingga alat musik; serta mengolahnya menjadi bahan makanan dan obat herbal.

Ia mencontohkan, bambu telah digunakan untuk membuat alat alat penangkap ikan, rakit, hingga bangunan rumah adat seperti Rumah Rakit dari Sumatera Selatan, Rumah Adat Baduy di Banten, dan Rumah Adat Honai di Papua.

“Kehidupan masyarakat Indonesia tak lepas dari fungsi tanaman bambu, bahkan dari sejak lahir sampai meninggal. Namun, masih sedikit masyarakat Indonesia, termasuk generasi muda, yang memiliki pengetahuan tentang bambu, dari jenis, manfaat, keunggulan, dan perannya dalam menjaga peradaban dan kehidupan manusia,” katanya.

“Oleh karena itu, diperlukan keterlibatan semua pihak untuk mengedukasi sekaligus melestarikan tanaman bambu Indonesia,” ia menambahkan.

Ia menjelaskan bahwa selain bisa digunakan sebagai bahan konstruksi, makanan, dan obat, tanaman bambu  memiliki kemampuan menyerap air dan mengikat tanah sehingga dapat mencegah terjadinya erosi, sedimentasi, dan tanah longsor.

Menurut Puji, bambu juga bisa menyerap karbon dioksida dengan kapasitas serap 100 sampai 400 ton per hektare per tahun sehingga dapat dimanfaatkan untuk mendukung mitigasi dampak perubahan iklim.
 

Pewarta :
Editor : Samino Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2021