Warga Kabupaten PPU budidayakan lalat hitam

id Warga, Kabupaten, PPU, pelopori, budidaya, lalat, hitam

Warga Kabupaten PPU budidayakan lalat hitam

Magot basah dan magot kering di Rumah Magot Kelurahan Tanjung Tengah, PPU. (Antaranews Kaltim/ M Ghofar)

Penajam, Kaltim (ANTARA) - Wantono Mustofa, ayah empat anak yang tinggal di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), daerah yang ditetapkan sebagai calon Ibu Kota Negara baru, mempelopori budi daya lalat hitam hingga kemudian dibina oleh PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur.

"Awalnya hanya coba-coba budidaya lalat hitam untuk memproduksi maggot, sampai kemudian Januari tahun ini mendapat bantuan pembuatan rumah maggot dari Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT)," ujar Wantono di Penajam, Selasa.

Ia bersyukur karena maggot (belatung) yang ia produksi dari rumah maggot tersebut sudah bermanfaat, baik bermanfaat berupa hasil penjualan, dijadikan tempat belajar produksi maggot, hingga sejumlah teman yang sekedar minta untuk bibit.

Magot yang diproduksi oleh Kelompok Himpuli di Kelurahan Tanjung Tengah, Kecamatan Penajam, Kabupaten PPU, Kalimantan Timur tersebut ternyata banyak peminatnya, yakni pembeli akan menggunakan maggot untuk pakan ikan maupun pakan burung.

Harga jual maggot di lokasi ini adalah Rp15 ribu per kilogram untuk maggot basah, kemudian Rp10 ribu per kemasan isi 50 miligram untuk maggot kering.

"Selama ini pembeli lebih suka yang magot basah. Sedangkan kemasan maggot kering ini hanya coba-coba saja mengemas, siapa tahu ada yang minat. Maggot ini diproduksi Kelompok Himpuli bekerjasama dengan Hidayatullah dan Kelompok Maggot Lestari, saya hanya sebagai penggerak," katanya.

Ia menuturkan, pihaknya mulai rutin membudidayakan lalat hitam untuk memproduksi maggot, sejak Maret tahun ini, yakni setelah bantuan pembuatan rumah maggot dari PT PHKT selesai dan diserahkan kepada kelompok pembudidaya setempat.

Wantono yang juga Ketua RT 06 Kelurahan Tanjung Tengah ini melanjutkan, terdapat dua unit rumah maggot yang dibuatkan oleh PHKT. Masing-masing rumah maggot berukuran 3X4 meter.

"Rumah magot yang pertama difungsikan untuk penetasan larva sampai kemudian menjadi lalat hitam dewasa dan bertelur. Telur inilah yang kemudian dipindah ke rumah kedua sehingga menjadi maggot," ujarnya.

Ia juga berencana menambah satu rak di atas lokasi produksi maggot, karena lokasi produksi maggot saat ini berada di lantai sehingga sering basah mengingat saat ini adalah musim hujan.

"Jika kondisi basah seperti musim hujan sekarang, telur lalat sulit menjadi maggot, makanya saya berencana membuat rak di atasnya masih di rumah maggot kedua. Hitung-hitung sekaligus memanfaatkan ruang yang ada," katanya.
Pewarta :
Editor : Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2021