Petani Lampung diminta bergabung dengan korporasi untuk stabilitas harga

id Pertanian Lampung, korporasi petani

Petani Lampung diminta bergabung dengan korporasi untuk stabilitas harga

Ilustrasi- Salah satu bentuk korporasi petani pisang di Lampung. (ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi)

Bandarlampung (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Lampung mendorong petani untuk bergabung dalam korporasi petani guna menjaga stabilitas harga komoditas pertanian.

"Kita masih terus mendorong petani untuk bergabung dalam korporasi petani, atau dapat diartikan para petani diharapkan membentuk suatu badan usaha," ujar Plt Asisten Perekonomian dan Pembangunan Provinsi Lampung, Kusnardi, saat dihubungi di Bandarlampung, Sabtu.

Ia mengatakan dengan adanya keinginan petani untuk bergabung dalam suatu korporasi pertanian maka akan mudah membantu menjaga stabilitas harga di tengah masa panen.

"Korporasi petani ini akan membantu menstabilkan harga komoditas, terutama saat musim panen yang terkadang harga bisa turun," ucapnya.

Menurut dia, jaminan harga dan produksi bagi petani akan terjadi karena penentuan harga akan langsung terstandarisasi.

"Semua akan terencana seperti jumlah produksi, target pembeli, bahkan sarana pengolahan hasil pun akan dilakukan dengan baik dengan sejumlah bantuan dan terjamin melalui korporasi petani," katanya.

Ia menjelaskan pembinaan akan terus dilakukan untuk meminimalisir adanya penurunan harga komoditas akibat panen raya.

"Harga beberapa komoditas sempat jatuh karena musim panen, namun ke depannya kita akan coba lakukan pembinaan kepada para petani agar dapat berkorporasi, sehingga terbentuk kerja sama kelompok dengan pembeli," ujarnya.

Provinsi Lampung memiliki ragam potensi pertanian yang mengalami pertumbuhan positif pada tahun 2020 seperti produksi padi yang mencapai total 2,59 juta ton, lalu jagung meningkat dari 2,57 juta ton dari tahun sebelumnya.

Kemudian ubi kayu mencapai 5,07 juta ton, kopi dan lada yang juga menjadi komoditas unggulan dengan produksi sebesar 118,145 ribu ton untuk kopi dan 15,23 ribu ton untuk lada.
Pewarta :
Editor : Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar