AS tetap jauh di depan sebagai pusat keuangan dunia

id pusat keuangan,Amerika Serikat,London,New Financial,skor peringkat

AS tetap jauh di depan sebagai pusat keuangan dunia

Foto dokumen: Distrik keuangan Kota London terlihat dengan gedung kantor pencakar langit yang biasa dikenal sebagai 'Cheesegrater', 'Gherkin' dan 'Walkie Talkie' terlihat di London, Inggris, 25 Januari 2018. ANTARA/REUTERS/Toby Melville

London (ANTARA) - Amerika Serikat tetap menjadi pusat keuangan yang dominan di dunia, jauh di depan saingan terdekatnya Inggris, yang unggul atas Frankfurt dan Paris, yang sejauh ini dengan mudah melebihi pukulan dari Brexit, sebuah studi dari lembaga pemikir New Financial mengatakan pada Kamis.

“Brexit dan dampak potensial pada Kota London telah mengkatalisasi perdebatan seputar kekuatan dan kelemahan relatif dari berbagai pusat keuangan di seluruh dunia,” kata New Financial.

Pemeringkatannya untuk 65 pasar menggemakan survei serupa seperti oleh Z/Yen Group, tetapi fokus New Financial pada aktivitas keuangan domestik dan internasional aktual, daripada pada faktor kualitatif seperti lingkungan bisnis dan peraturan, menyoroti pengejaran yang diperlukan oleh pusat keuangan untuk mendapatkan posisi terdepan.

Amerika Serikat secara keseluruhan mencetak 84 poin dari 100 poin, lebih dari dua kali lipat skor Inggris sebanyak 35 poin, yang pada gilirannya hampir tiga kali lipat dari Prancis, Jerman atau Luksemburg.

New Financial menggunakan data dari 2016 hingga 2019.

China, dengan 29 poin adalah pusat keuangan terbesar ketiga, di depan Jepang (19 poin), Hong Kong (14 poin) dan Prancis (13 poin), karena sektor keuangan domestiknya yang besar mengimbangi aktivitas internasional yang relatif lemah.

“Pasar-pasar di Asia Pasifik mencakup empat dari 10 pusat keuangan teratas dan delapan dari 20 besar di dunia, dan telah berkembang paling pesat sejak 2016,” kata New Financial.

Sementara Brexit telah menimbulkan kekhawatiran di Inggris tentang perlunya menjaga Kota kompetitif secara global, Uni Eropa memperkuat "otonomi strategis" di bidang keuangan dengan memaksa perdagangan saham dan swap euro untuk meninggalkan London ke blok tersebut, dan sekarang menargetkan kliring euro.

Pada 2019, Inggris memiliki 42 persen dari semua aktivitas keuangan di Uni Eropa yang masih termasuk Inggris.

Dalam sepuluh sub-sektor yang mencakup dana lindung nilai, penerbitan dan perdagangan ekuitas sekunder asing, valas, kliring dan perdagangan derivatif komoditas, Inggris memiliki lebih banyak aktivitas internasional daripada gabungan 27 negara anggota Uni Eropa sekarang, kata New Financial.
Pewarta :
Editor : Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar