Status kultus Maradona jauh lebihi lapangan sepak bola

id Maradona meninggal, Diego Maradona,Gol Tangan Tuhan

Status kultus Maradona jauh lebihi lapangan sepak bola

Diego Maradona usai mencetak gol dalam semifinal Piala Dunia 1986 melawan Belgia pada 25 Juni 1986 di Mexico City. Argentina maju ke final setelah menang 2-0 dan akhirnya menjuarai Piala Dunia ini. (Photo by STAFF/AFP) (AFP/STAFF)

Jakarta (ANTARA) - Diego Maradona punya bakat yang lebih banyak ketimbang hampir semua pesepak bola lainnya dalam sejarah, namun status kultusnya di Argentina dan di seluruh dunia jauh melampaui lapangan.

Kekurangan-kekurangan dia membuatnya menjadi manusia dan sifatnya yang petarung membuat dia disanjung.

Legenda yang meninggal dunia karena serangan jantung pada usia 60 tahun kemarin Rabu itu turut menjuarai Piala Dunia 1986, mengangkat tinggi-tinggi klub Italia Napoli sampai tak ada yang menandinginya dan, dalam satu pertandingan penting melawan Inggris pada Piala Dunia mencetak dua gol paling berkesan sepanjang masa, yakni satu dengan tangannya dan yang satunya lagi dengan kakinya.

"Sebagai pemain dia telah memberi kami segalanya," kata penduduk Buenos Aires Elsa Flores kepada Reuters. "Saya kira tidak ada orang Argentina yang mengatakan dia tidak memberi segalanya kepada kami. Dia memberi kami gelar juara dunia dan memberi kami banyak hal sebagai pemain. Dia selalu bermain untuk jersey Argentina."

Di luar lapangan, Maradona penuh gairah dan kebablasan, pria mungil berselera besar. Dia tahu bagaimana membuat orang lain murka dan dia tak peduli apa yang dipikirkan orang.

Perilaku itu membuat dia dicintai sekaligus dibenci.

Dia dihormati di Napoli yang 30 tahun setelah kiprahnya di sana, wajahnya tetap menghiasi tembok-tembok, papan iklan dan tempat-tempat suci.

Di Argentina dia diabadikan dalam berbagai lagu dan sebuah "gereja" virtual dengan 10 perintahnya sendiri, yang berkisar dari memuja sang mantan playmaker yang nomor punggung 10-nya membuatnya dipanggil D10S yang adalah sebuah plesetan kata bahasa Spanyol yang berarti "Tuhan".

"Maradona bukan sembarang manusia, dia manusia yang melekat di bola kulit," kata penyanyi Argentina Calamaro dalam lagunya "Maradona". "Aku tak peduli kekacauan yang dialami Maradona, dia sahabatku dan dia orang hebat."

Maradona adalah pendukung perjuangan bangsanya Argentina, termasuk dalam klaim kontroversial Argentina atas Malvinas, kepulauan yang oleh Inggris disebut Falklands yang terletak tepat di sebelah timur pantai Argentina.

Dia adalah sahabat dari pemimpin sayap kiri Amerika Latin, termasuk Fidel Castro dari Kuba dan Hugo Chavez dari Venezuela.

Di Italia, dia berbicara atas nama kaum miskin di selatan negeri itu yang melawan kaum kaya di utara.

Dalam olahraga di mana kelembutan berlaku, Maradona bersedia mengutarakan isi hatinya dan rakyat Argentina menyukai dia karena mereka melihat bagian dari dirinya ada pada diri Maradona, mungkin lebih dari yang mereka akui.

Gairahnya yang berbahaya dan sering kali merusak adalah lambang dari apa artinya menjadi orang Argentina di mana curahan kegembiraan besar acap diikuti oleh rendungan mendalam yang melankolis.

Itulah yang mendorong ribuan warga Argentina turun ke jalan untuk berkabung pada Rabu dan yang membuat mereka berkali-kali memaafkan Maradona sekalipun dia menyukai para otokrat dan diktator serta trauma berulang-ulangnya pada minuman, obat-obatan dan pasangan.

"Gereja Maradona" di mana Diego menjadi "Tuhan"-nya dan memiliki ribuan pengikut di seluruh dunia, termasuk perintah-perintah seperti "Ungkapkan cinta tanpa syarat Anda kepada Diego dan sepak bola yang baik" dan "Sebarkan keajaiban Diego ke seluruh alam semesta".

Juga di lapangan, Maradona adalah personifikasi Argentina dan bukan cuma karena kecemerlangannya yang tak tertanding. Kelicikannya, kesukaannya dalam mengakali lawan dan kecurigaan mendalamnya terhadap otoritas menandai caranya bermain sepak bola.

Seperti ditulis seorang pengikut gereja di halaman Facebook kelompok itu, "Sepak bola sudah mati. Tak ada lagi yang bisa dikatakan. AD10".
Pewarta :
Editor : Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar