Kementan apresiasi BUMD serap hasil kakao petani Lampung

id Perkebunan Lampung, kakao Lampung, pangan lampung

Kementan apresiasi BUMD serap hasil kakao petani Lampung

Penyerahan secara simbolis bantuan bibit oleh Kementerian Pertanian Republik Indonesia kepada petani di Kabupaten Pesawaran, Lampung. (ANTARA/HO-Kementerian Pertanian)

Dapat memaksimalkan produksi cokelat dan menyerap biji kakao petani

Bandarlampung (ANTARA) - Kementerian Pertanian Republik Indonesia melalui Direktur Jenderal Perkebunan mengapresiasi badan usaha milik daerah (BUMD) di Kabupaten Pesawaran yang mampu menyerap hasil panen petani kakao Lampung.

"Meskipun kapasitas pabrik kakao masih relatif kecil, mungkin bila bisa direplikasi di tempat lain atau dapat diperbesar skalanya, dapat memaksimalkan produksi cokelat dan menyerap biji kakao petani," ujar Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Kasdi Subagyono melalui keterangan tertulis diterima, di Bandarlampung, Jumat.

Menurutnya, BUMD khusus pengolahan kakao milik Kabupaten Pesawaran menjadi salah satu hal yang inovatif untuk membantu penyerapan biji kakao petani.

"Kami sedang mengupayakan dan mengangkat kelapa genjah. Kelapa ini selama 3 tahun buahnya lebat dan batangnya pendek, sehingga masyarakat dapat dengan mudah melakukan panen buah kelapa," ujarnya.

Ia mengatakan, Provinsi Lampung memiliki sejumlah komoditas perkebunan yang berpotensi selain kakao, kopi dan lada, yaitu kelapa Lampung sehingga perlu juga dikembangkan.

"Untuk membantu mengembangkan potensi perkebunan di Lampung, kami menyalurkan sejumlah benih kopi sebanyak 10.000 biji, dan kakao 6.668 biji dengan perkiraan rincian volume total sebanyak 16.668 kepada petani," katanya lagi.

Hal serupa juga dikatakan oleh Kepala BUMD Pesawaran Ahmad Muslimin.

"Pesawaran memiliki mini pabrik kakao dengan kemampuan dan kapasitas pengolahan untuk memproses biji kakao menjadi bubuk cokelat sebanyak 5 kilogram per  hari," ujar Ahmad Muslimin.

Menurutnya, penyerapan biji kakao kering fermentasi dapat mencapai 200 kilogram per hari dengan harga beli kelas A sebesar Rp47.000 per kilogram, untuk kelas B sebesar Rp42.000 per kilogram, dan kelas C dengan harga beli Rp32.000 kilogram, semua harga tetap meski ada panen raya.

"Fungsi BUMD ini salah satunya untuk mengatasi adanya perubahan atau anjloknya harga biji kakao di tengah petani disaat panen raya," ujarnya pula.

Berdasarkan data yang dipublikasi oleh Kementerian Pertanian dalam "Outlook Komoditas Kakao Tahun 2019", Provinsi Lampung menjadi provinsi sentra produksi kakao terbesar di Indonesia urutan ke 6, dengan rata-rata produksi biji kering kakao per tahun mencapai 34.516 ton.
Baca juga: Produk cokelat hadir di ajang Festival Kopi Lampung
Baca juga: Cokelat khas Pesawaran meramaikan Festival Kopi Lampung

Pewarta :
Editor : Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar