'Kopi Widodo" tetap berproduksi di tengah pandemi COVID-19

id kopi widodo, kopi bubuk, pesawaran, sinar tiga

'Kopi Widodo" tetap berproduksi di tengah pandemi COVID-19

Kopi bubuk produksi rumahan "Kopi Widodo" (ANTARA/HO)

Pesawaran (ANTARA) - "Kopi Widodo",  kopi bubuk khas Dusun Sinar Tiga Desa Harapan Kecamatan Way Ratai,  Kabupaten Pesawaran, Lampung tetap berproduksi di tengah pandemi COVID-19. 

"Saya mulai memproduksi kopi ini sejak tahun 2017 lalu, sejak berdirinya wisata air terjun (Sinar Tiga), dan hingga kini tetap berproduksi meski di tengah pandemi COVID-19," kata Teguh Widodo pemilik usaha "Kopi Widodo", di Pesawaran,  Sabtu. 

Ia menyebutkan produksi kopi bubuknya itu diberi nama belakang dirinya agar lebih diingat dan dikenal. 

Teguh mengaku masih terus memproduksi kopi bubuknya meski pandemi COVID-19 masih terjadi. "Meski kasus  COVID-19 terus bertambah dan belum ada tanda-tanda selesai, kami tetap berproduksi, " ujarnya. 

Produksi kopi bubuk ini,  lanjutnya,  harus tetap berjalan mengingat usaha kopi tersebut merupakan salah satu penopang ekonomi keluarga.

Ia menceritakan asal mula merintis produksi kopi bubuk tersebut bermula saat dibentuk kelompok sadar wisata (Pokdarwis).

"Kebetulan saat itu, saya di bidang usaha. Kami diminta untuk kreatif menjalankan usaha oleh kepala desa saat itu. Akhirnya saya produksi bubuk kopi aja mengingat ada kebun kopi dan bisa produksi sendiri," kata Teguh Widodo.

Agar kualitas kopi bubuknya bagus, ia memilih biji kopi terbaik yakni petik merah yang diambil dari hasil kebunnya sendiri. 

"Jadi kami pilih dari biji kopi terbaik yang dipetik langsung dari kebun yang berada persis di lereng pegunungan Pesawaran ini," katanya. 
 
Menariknya lagi, ada tiga varian rasa kopi bubuk Widodo, yakni original, pala dan jahe.  

Harga kopi bubuk original dijual mulai dari Rp5.000 per ons hingga Rp50 ribu per kg. 

Sementara untuk Kopi Widodo rasa jahe dan pala, lanjut Teguh Widodo dibanderol dengan harga lebih mahal dari original.  Harga mulai dari Rp8 ribu/kg hingga Rp80 ribu per kilogram

Terkait pemasaran kopinya, Teguh Widodo mengatakan hanya dijual di warung-warung sekitar dan pesanan para wisatawan yang datang dari luar. 

"Produksinya per hari pun tak menentu, tergantung pesanan, kadang hingga 10 kg. Jadi wisatawan selesai berkunjung ke Arter Sinar Tiga dan Bukit Cendana, banyak yang membeli 'Kopi Widodo' sebagai buah tangan,” katanya.

Terkait dukungan pemerintah daerah hasil produksi rumahan kopi bubuknya,  ia mengaku baru mendapatkan bantuan alat roasting. 

Karena itu,  ia berharap mendapat perhatian lebih dari pemerintah daerah setempat, terutama dari sisi pemasaran. 

"Kami minta dukungan dari pemerintah daerah, walau kami dulu sudah pernah menerima bantuan berupa alat roasting kopi. Kami terkedala pemasaran juga, karena letak yang jauh dari pusat kota," pungkasnya.




 
Pewarta :
Editor : Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar