IJTI Pengda Lampung kecam pemukulan dan perampasan kamera wartawan

id Lampung, ijti, kekerasan wartawan, wartawan

IJTI Pengda Lampung kecam pemukulan dan perampasan kamera wartawan

Logo IJTI Pengda Lampung (Antaralampung/HO)

IJTI Pengda Lampung sangat mengecam dan mengutuk tindakan pemukulan dan perampasan kamera
Bandarlampung (ANTARA) - Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Pengurus Daerah (Pengda) Lampung mengecam tindakan kekerasan yang dilakukan oknum Ketua Panitia Pelaksana Bupati Cup Kabupaten Lampung Utara terhadap jurnalis biro SCTV-Indosiar Ardy Yoehaba.

Tindakan kekerasan itu terjadi saat Ardy hendak mengklarifikasi kericuhan pertandingan sepak bola Piala Bupati Cup yang digelar di Stadion Sukung Kelapa Tujuh, Kecamatan Kotabumi Selatan, Kabupaten Lampung utara, Jumat (28/8).

Kejadian tersebut bermula ketika Ardy Yoehaba, jurnalis biro SCTV-Indosiar hendak melakukan wawancara kepada pihak panitia atas kericuhan pertandingan sepak bola yang menyebabkan salah satu klub didiskualifikasi.

Ketua IJTI Lampung Hendri Yansah mengatakan, kejadian ini menambah panjang deretan kekerasan terhadap jurnalis di Provinsi Lampung. Padahal aktivitas jurnalis ini dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, dan Kode Etik Jurnalistik.

"IJTI Pengda Lampung sangat mengecam dan mengutuk tindakan pemukulan dan perampasan kamera yang dilakukan oleh ketua panitia pelaksana pertandingan," ujar Hendri.

Ia menjelaskan bahwa siapa pun yang menghambat atau pun menghalangi kerja jurnalistik dapat dikenakan hukuman pidana maksimal dua tahun penjara atau denda Rp500 juta sesuai Pasal 18 UU Pers itu.

Hendri menambahkan, dengan kebebasan pers yang dijamin UU akan memunculkan pemerintahan yang baik, bersih, dan bertanggung jawab, sehingga masyarakat dapat mengetahui berbagai peristiwa, termasuk kinerja pemerintah.

"Pada dasarnya kebebasan pers bertujuan untuk meningkatkan kualitas demokrasi yang memungkinkan media massa untuk menyampaikan informasi yang akurat, sehingga memperkuat dan mendukung warga negara untuk berperan di dalam demokrasi itu," kata dia.

Ardy Yoehaba, jurnalis biro SCTV-Indosiar mengatakan, sebelum terjadi pemukulan, kamera miliknya dirampas oleh ketua panitia yang belakangan diketahui bernama Juanda Basri. Atas tindakan pemukulan yang dialami tersebut, Ardy mengalami luka di bagian pelipis sebelah kanan. Sedangkan kamera yang biasa digunakan untuk bekerja, akhirnya dikembalikan setelah 30 menit melakukan negosiasi. Namun baterai kamera miliknya hingga saat ini belum dikembalikan.

"Saya datang ke lokasi untuk konfirmasi terkait kericuhan pertandingan, setelah memperkenalkan diri kepada salah satu pengurus KONI, saya diarahkan untuk mewawancarai ketua panitia, setelah menunggu sekitar 30 menit ketua panitia datang dan sempat berbicara sebentar barulah Juanda Basri memukul dan menyita kamera," ujar Ardy pula.

Atas kejadian itu, Ardy Yoehaba melaporkan peristiwa yang dialaminya ke Mapolres Lampung utara. Laporan diterima langsung oleh Kepala SPKT Ipda Pol Irwanto, Unit Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) dengan Nomor Laporan Polisi: LP/855/B/VIII/2020/POLDA LAMPUNG/RES LU.
Baca juga: Kecewa perlakuan oknum panitia, wartawan boikot post match Perseru Badak Lampung-Persija
Baca juga: AJI dan IJTI Lampung kecam tindakan kekerasan kepada wartawan
Pewarta :
Editor : Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar