Program relaksasi OJK bantu dunia usaha di Lampung saat pandemi

id ojk lampung, relaksasi ojk, dunia usaha, pertumbuhan ekonomi lampung

Program relaksasi OJK bantu dunia usaha di Lampung saat pandemi

Kepala Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Lampung, Bambang Hermanto (dua dari kiri) (ANTARA/HO)

OJK menilai stabilitas sektor jasa keuangan dalam kondisi tetap terjaga
Bandarlampung (ANTARA) - Program relaksasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dapat membantu dunia usaha di Provinsi Lampung saat pandemi COVID-19.

"OJK menilai stabilitas sektor jasa keuangan dalam kondisi tetap terjaga, namun dengan kewaspadaan yang terus ditingkatkan," kata Kepala OJK Provinsi Lampung Bambang Hermanto, di Bandarlampung, Kamis.

Ia menyebutkan OJK akan terus mengoptimalkan berbagai kebijakan yang telah dikeluarkan untuk mendorong Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) melalui penguatan peran sektor jasa keuangan .

Menurutnya, kebijakan relaksasi baik yang diinisiasi oleh OJK berupa pemberian relaksasi kredit/pembiayaan bagi debitur yang terdampak COVID-19 atau yang bekerjasama dengan pemerintah melalui pemberian subsidi bunga maupun penempatan dana PEN pada Bank Himbara berjalan cukup efektif khususnya di Provinsi Lampung.
Baca juga: Gubernur Arinal apresiasi kontribusi BUMN-OJK dalam percepatan penanganan COVID-19


Hal tersebut, lanjutnya, tercermin dari mulai kembali membaiknya penyaluran kredit oleh perbankan sampai dengan periode Juni 2020, diikuti dengan perbaikan kredit bermasalah.

Bambang mengungkapkan data OJK Provinsi Lampung pada Semester I-2020 menunjukkan, kredit perbankan pada awal masa pandemi COVID19, yaitu April-Mei 2020 sempat mengalami penurunan, masing-masing turun 0,14 persen pada April 2020 dan kembali menurun sebesar 1 persen pada Mei 2020. 

Namun demikian, lanjutnya, sejalan dengan mulai diberlakukannya adaptasi kebiasaan baru dan beberapa program pemulihan ekonomi nasional, pada Juni 2020 penyaluran kredit perbankan kembali tumbuh positif meskipun masih relatif rendah yaitu 0,64 persen.

Kredit bermasalah perbankan pada awal masa pandemi COVID19 (April-Mei 2020) sempat mengalami peningkatan yaitu dari 2,22 persen per Maret 2020 menjadi 2,64 persen pada April dan meningkat lagi menjadi 2,94 persen pada Mei 2020. 

Namun pada Juni 2020 jumlah kredit bermasalah kembali menurun menjadi 2,79 persen. Penurunan non performing loan (NPL) perbankan pada Juni 2020 ini menunjukkan bahwa program relaksasi baik yang diinisiasi oleh OJK maupun bekerjasama dengan pemerintah berjalan cukup efektif.

Beberapa sektor ekonomi yang mengalami penurunan kredit cukup tinggi pada masa awal pandemi (April sampai Mei 2020) dan menurun cukup signifikan pada Mei 2020, antara lain sektor real estate, persewaan dan jasa perusahaan (-4,99 persen); jasa perdagangan besar dan eceran (-3,57 persen); jasa konstruksi (-2,85 persen) dan jasa transportasi, pergudangan dan komunikasi (-2,05 persen). 

Sedangkan sektor ekonomi yang cukup stabil dan tidak mengalami penurunan signifikan selama masa pandemi COVID-19, antara lain sektor pertanian, sektor perikanan dan sektor bukan lapangan usaha lainnya (konsumtif).

"Berdasarkan data pelaksanaan relaksasi kredit perbankan per 30 Juli 2020, dari 130.596 debitur yang mengajukan restrukturisasi, tercatat sebanyak 124.490 pengajuan yang telah disetujui dengan nilai mencapai Rp 6,79 triliun," katanya pula. 
Baca juga: OJK: BPD Lampung harus berani keluar dari zona nyaman
Baca juga: OJK bantah Bank Lampung bakal bangkrut

 
Pewarta :
Editor : Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar