Dolar menguat karena COVID-19 makin mengkhawatirkan

id indeks dolar,sentimen risiko,aset aman

Dolar menguat karena COVID-19 makin mengkhawatirkan

Uang dolar AS dan euro. ANTARA/Reuters

New York (ANTARA) - Dolar AS menguat pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), karena pembelian aman dipicu peningkatan kekhawatiran atas kenaikan cepat infeksi virus corona di beberapa negara bagian AS dan ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Jumlah kasus harian baru di seluruh Amerika Serikat naik mendekati rekor tertinggi. Texas menghentikan pembukaan kembali secara bertahap sebagai tanggapan atas lonjakan infeksi COVID-19 dan perawatan di rumah sakit.

Lebih dari 36.000 kasus baru AS tercatat pada Rabu (24/6/2020), hanya beberapa ratus dari rekor tertinggi 24 April, membuat investor lebih pesimistis tentang peluang pemulihan ekonomi yang cepat.

"Ini akselerasi sangat cepat di banyak negara bagian AS, yang akan terus menjadi masalah bagi pasar," kata Erik Nelson, ahli strategi makro di Wells Fargo di New York.

Data pada Kamis (25/6/2020) menunjukkan permintaan yang lemah memaksa pengusaha-pengusaha AS memberhentikan pekerja, mempertahankan permohonan baru untuk tunjangan pengangguran yang sangat tinggi, bahkan ketika bisnis telah dibuka kembali.

Pesanan baru untuk barang modal buatan AS rebound lebih dari yang diperkirakan pada Mei, tetapi hanya memperoleh kembali sebagian dari penurunan dua bulan sebelumnya.

Pasar valas sebagian besar telah melacak pergerakan ekuitas karena sentimen risiko berubah. Wall Street beragam pada Kamis (25/6/2020) setelah hari terburuk S&P 500 dalam dua minggu.

Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, terakhir menguat 0,18 persen menjadi di 97,41.

Perselisihan antara Amerika Serikat dan Uni Eropa, di mana Washington menandai kemungkinan perubahan tarif pada barang-barang UE, juga merusak sentimen risiko.

Euro tergelincir karena aset berisiko di kawasan itu, termasuk obligasi Italia, melemah, dan ketika Bank Sentral Eropa (ECB) berselisih kembali melawan tantangan pengadilan Jerman terhadap rencana pencetakan uangnya.

"Ada sedikit kegelisahan yang terjadi di pasar keuangan Eropa, yang mungkin membebani euro," kata Nelson.

ECB juga mengatakan akan menawarkan pinjaman euro terhadap agunan kepada bank-bank sentral di luar kawasan euro untuk menghambat pasar pendanaan di tengah pandemi virus corona.

Euro terakhir turun 0,32 persen menjadi 1,1214 dolar. Dolar menguat 0,16 persen terhadap yen Jepang menjadi 107,19 yen.

Beberapa ahli strategi menunjuk kurangnya momentum di pasar mata uang dan mengatakan permintaan sebagian didorong oleh dana investasi, perusahaan dan lembaga lain yang membuat penyesuaian akhir periode terhadap neraca mereka.

"Kami berada di akhir bulan, akhir kuartal dan setengah tahun, dan kedua perusahaan dan institusi sedang melakukan penyeimbangan kembali, dan itulah yang mendorong pasar dalam jangka pendek," kata Thomas Anderson, direktur pelaksana di Moneycorp Amerika Utara.
Pewarta :
Editor : Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar