Lampung lakukan kajian epidemiologi menyambut normal baru

id Corona, dinkes, normal baru

Lampung  lakukan kajian epidemiologi menyambut normal baru

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, Reihana. (ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi)

Bandarlampung (ANTARA) - Dinas Kesehatan Provinsi Lampung terus melakukan kajian epidemiologi untuk menyambut skema normal baru di tengah pandemi COVID-19.

"Saat ini kajian epidemiologi terus kita lakukan untuk memetakan kasus COVID-19 agar pandemi dapat dikendalikan," ujar Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Reihana, di Bandarlampung, Kamis. 

Ia mengatakan ada sejumlah hal yang dilakukan pengkajian  meliputi jumlah penduduk, angka kesembuhan, angka kesakitan, jumlah tempat tidur di rumah sakit, jumlah puskesmas per 100 ribu penduduk, jumlah tenaga kesehatan termasuk dokter umum, spesialis, perawat, bidan, dan analis kesehatan. 

"Kajian ini terus dilakukan di 15 kabupaten/kota di Provinsi Lampung, dan semuanya memiliki hasil yang berbeda-beda sesuai dengan pertumbuhan kasus dan kesiapan, sebab kita belum bisa mengendalikan karena pandemi belum usai," ucapnya. 

Ia menjelaskan, keberagaman kondisi dan hasil kajian epidemiologi di 15 kabupaten/kota di Provinsi Lampung mengakibatkan adanya perubahan sejumlah hasil analisis persiapan uji coba normal baru. 

"Sebelumnya Lampung Timur, Mesuji, Pringsewu, dan Metro keluar menjadi kabupaten yang siap diuji coba normal baru, namun ketika ada penambahan kasus baru maka nama-nama kabupaten/kota kembali berubah, sehingga yang menjadi tugas kita adalah mengendalikan pandemi COVID-19," katanya. 

Menurutnya, sejumlah kriteria harus dilengkapi agar kabupaten/kota dapat melaksanakan skema normal baru yaitu kriteria epidemiologi, sistem pelayanan dan fasilitas kesehatan, serta sistem surveilans. 

Dalam sepekan terakhir kurva kasus COVID-19 mengalami kenaikan namun tidak signifikan, dengan jumlah peningkatan pasien positif berkisar 1 hingga 3 orang per hari, dan jumlah kesembuhan mencapai 53 persen selama bulan Mei. 
Pewarta :
Editor : Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar