Halep "gembira" karena status juara berlaku dua tahun setelah Wimbledon batal

id simona halep,wimbledon,grand slam,tenis,olahraga terdampak corona

Halep "gembira"  karena status juara berlaku dua tahun setelah Wimbledon batal

Petenis Rumania Simona Halep mengangkat trofi kejuaraan Wimbledon 2019 usai menundukkan Serena Williams di London, Inggris, Sabtu (13/7/2019). (ANTARA/REUTERS/Hannah McKay)

Jakarta (ANTARA) - Juara bertahan Wimbledon Simona Halep berusaha melihat sisi positif menyusul keputusan ditiadakannya turnamen Grand Slam itu untuk tahun ini karena pandemi virus corona, yakni status juaranya berlaku dua tahun.

Tahun lalu, petenis Rumania itu memperlihatkan penampilan gigih saat mengalahkan Serena Williams di partai final, namun peniadaan Wimbledon 2020 berarti ia tidak perlu berjuang mempertahankan gelarnya di atas lapangan rumput tahun ini.

"Saya berusaha menerimanya dengan positif, sebab keputusan itu membuat saya berstatus juara dua tahun," kata Halep dalam wawancara dengan siniar Tennis Legends asuhan Eurosport sebagaimana dilansir Reuters, Sabtu.

"Jadi, saya harus menyandang gelar itu setahun lagi, itu bagus," ujarnya menambahkan.

Peniadaan Wimbledon jadi efek domino pandemi virus corona, yang sebelumnya sudah membuat rangkaian tur WTA dan ATP musim ini ditangguhkan setidaknya hingga Juli nanti.

Secara pribadi, Halep mengaku sudah memperhitungkan kemungkinan Wimbledon tahun ini ditiadakan dan ia cukup ragu bila mana US Open yang sedianya digelar 31 Agustus s.d. 13 September bisa dilangsungkan sesuai jadwal.

"Saya paham ada skenario terburuk bahwa tahun ini Wimbledon akan ditiadakan, ya, saya pikir kita semua harus bersama-sama mengatasi ini dengan mendengarkan imbauan petugas medis dan bertahan di rumah," ujarnya.

"Saat ini, saya pikir musim akan ditangguhkan lebih dari bulan Juli. Kita semua berharap US Open bisa berlangsung, tapi semuanya tidak pasti sebab New York saat ini terseok-seok," kata Halep menambahkan.

Kendati mengakui bahwa ia sudah begitu merindukan bisa bertanding di atas lapangan, di hadapan penonton yang mengisi penuh tribun arena olahraga, tapi langkah terbaik saat ini adalah mengutamakan nyawa manusia.

"Ini masalah sedunia dan rasanya memang lebih aman jika semuanya dibatalkan. Ini bukan masalah kecil, ini persoalan besar," katanya.

"Tenis bukan segalanya dalam hidup saya," pungkas petenis berusia 28 tahun itu.
Pewarta :
Editor : Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar