Ibu-ibu majelis taklim dukung Rycko Menoza

id rycko menoza, majelis taklim, ibu-ibu pengajian, kota bandarlampung

Ibu-ibu majelis taklim dukung Rycko Menoza

Bakal calon wali kota Bandarlampung, Rycko Menoza SZP menerima kunjungan ratusan ibu-ibu perwakilan sejumlah majelis taklim kota setemoat, di Kelurahan Pahoman, Bandarlampung, Kamis (12/3/2020) (Antara Lampung/HO)

Bandarlampung (ANTARA) - Bakal calon wali kota Bandarlampung, Rycko Menoza SZP menerima kunjungan ratusan ibu-ibu perwakilan sejumlah majelis taklim kota setemoat, di Kelurahan Pahoman, Bandar lampung, Kamis.

Kedatangan mereka ingin mendukung pencalonan Rycko Menoza SZP menjadi Wali Kota Bandar Lampung yang mengusung berbagai program pro-rakyat dengan tagline 'Bandar Lampung Baru' tersebut.

Perwakilan Forum Majelis Taklim Bandar lampung, Sri Sumarno, mengatakan, kedatangan mereka untuk bersilaturahim dan berharap adanya pemimpin baru yang dapat memberikan perhatian, mengayomi dan mendukung semua majelis taklim yang ada di Bandar Lampung.

Menurutnya, selama ini hanya majelis taklim tertentu saja yang mendapatkan perhatian padahal majelis taklim di Bandar Lampung sangat banyak dari kalangan ibu-ibu yang aktif di kegiatan keagamaan itu.

"Selama ini 'blas', sama sekali tidak ada perhatian pemerintah," kata dia.

Sementara itu, Rycko Menoza berjanji akan memimpin dengan  berdiri sama rata dengan semua golongan  masyarakat tanpa membeda-bedakan kelompok-kelompok tertentu.

"Bandarlampung terdiri atas berbagai kelompok, suku,  agama, dan mereka memiliki hak yang sama dalam menikmati pembangunan," katanya.

Tidak hanya majelis taklim, kata dia, semua agama akan dinaungi, karena pembangunan Kota Bandarlampung berasal dari uang rakyat oleh karenanya harus dirasakan oleh semua lapisan masyarakat.

"Tidak boleh hanya memperhatikan kelompok tertentu saja," ujarnya.

Rycko juga menyampaikan, program keagamaan wisata rohani 'umrah' harus diberikan secara merata tidak hanya kelompok-kelompok tertentu saja karena yang digunakan adalah uang rakyat.

"Program umrah sebaiknya dikembalikan ke masyarakat. Misalnya di kelurahan tersebut ada guru mengaji, marbot,  pemandi mayat atau seseorang yang telah berjasa untuk masyarakat namun tidak mampu berangkat ke Tanah Suci," tambahnya. 
Pewarta :
Editor : Samino Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar