Masker bekas kotori pantai dan pinggiran kota Hong Kong

id Masker,virus corona,wabah corona,hong kong

Masker bekas  kotori pantai dan pinggiran kota Hong Kong

Warga memakai masker pelindung menyusul penularan virus korona baru, saat perjalanan pagi mereka di stasiun, di Hong Kong, China, Senin (10/2/2020). REUTERS/Tyrone Siu/ama/cfo (REUTERS/TYRONE SIU)

Hong Kong (ANTARA) -  Tumpukan masker bekas pakai tersebar di sejumlah lokasi di pantai, jalan-jalan pinggiran kota yang membuat kelompok aktivis lingkungan, pada Kamis, memperingatkan potensi bahaya yang mengancam habitat laut dan lingkungan alami di darat.

Sebagian besar masyarakat Hong Kong yang berjumlah 7,4 juta orang mengenakan masker sekali pakai setiap hari belakangan ini sebagai upaya mencegah paparan virus corona, COVID-19.

Namun masker bekas dalam jumlah besar itu tidak dibuang dengan benar sehingga berakhir menumpuk di pinggiran kota atau pinggir pantai.

Sampah masker itu bisa tersapu ke laut bersama dengan sampah lainnya seperti plastik, dan hewan laut bisa keliru menganggapnya sebagai makanan.

Sejumlah kelompok yang fokus pada isu lingkungan menyebut limbah masker bekas itu menjadi masalah lain di samping wabah yang tengah terjadi, serta meningkatkan risiko penyebaran kuman.

“Kami meneliti sampah masker yang dibuang sejak enam hingga delapan pekan lalu dalam jumlah yang sangat besar. Saat ini kami sedang melihat efeknya bagi lingkungan,” kata Gary Stokes, pendiri Oceans Asia.

Dia mencontohkan tumpukan masker bekas di kepulauan Soko yang terisolasi dan tidak berpenghuni di Hong Kong, sebelah selatan dari bandara internasional wilayah itu.

Stokes menyebut, pada awalnya dia menemukan 70 sampah masker di 100 meter area pantai, hingga satu pekan kemudian terdapat tambahan lebih dari 30 sampah masker.

“Hal ini cukup mengkhawatirkan bagi kita,” kata dia, menambahkan bahwa pantai-pantai lain di Hong Kong juga mempunyai situasi serupa.

Di samping itu, dengan populasi masyarakat yang padat disertai kebiasaan makan makanan kemasan, Hong Kong harus berjuang untuk menangani sampah plastik.

Hanya sedikit limbah yang didaur ulang, sementara 70 persen dari enam juta ton sampah per tahun berakhir di pembuangan sampah di darat.

“Tidak ada yang mau datang ke hutan dan memunguti sampah masker yang tersebar di mana-mana, ataupun menggunakan lagi masker yang menumpuk di pantai. Tentu karena tidak higienis dan berbahaya,” ujar Laurence McCook, kepala konservasi laut di WWF Hong Kong.

Kelompok-kelompok peduli lingkungan di Hong Kong juga telah berencana menggelar kegiatan bersih-bersih pantai untuk menangani soal sampah tersebut.

Masker terbuat dari polipropilen, termasuk ke dalam jenis plastik, yang tidak mudah terurai, demikian dijelaskan Tracey Read, pendiri Plastic Free Seas Hong Kong.

Penggunaan masker mungkin menjadi upaya melindungi diri dari virus, namun membuang bekasnya sembarangan akan menjadi bahaya bagi orang lain.

Sumber: Reuters
 
Pewarta :
Editor : Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar