Wall Street di tengah ketakutan virus corona dan data ekonomi

id Wall Street,indeks Dow,indeks S&P,indeks Nasdaq

Wall Street di tengah ketakutan virus corona dan data ekonomi

Ilustrasi: Para pialang sedang bekerja memperhatikan layar monitor pergerakan saham di Bursa Efek New York, Wall Street, Amerika Serikat. REUTERS/Brendan McDermid/aa.

New York (ANTARA) - Saham-saham di Wall Street bervariasi pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), karena investor mencerna data ekonomi terbaru di tengah kekhawatiran dampak ekonomi dari virus corona yang menyebar lebih jauh ke seluruh dunia.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 123,77 poin atau 0,46 persen, menjadi ditutup di 26.957,59 poin. Indeks S&P 500 berkurang 11,82 poin atau 0,38 persen, menjadi berakhir di 3.116,39 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup naik 15,16 poin atau 0,17 persen, menjadi 8.980,77 poin.

Sebagian besar dari 30 perusahaan komponen Dow ditutup di wilayah merah, dengan Walt Disney dan Chevron masing-masing merosot 4,83 persen dan 2,67 persen, memimpin kerugian.

Sepuluh dari 11 sektor utama S&P 500 ditutup lebih rendah, dengan energi dan utilitas masing-masing turun 2,97 persen dan 0,97 persen, dua sektor dengan kerugian teratas.

Kasus-kasus virus corona menyebar di Eropa dan sekitarnya pada Rabu (26/2/2020), dengan Amerika Latin mengonfirmasikan pasien pertamanya ketika dunia berjuang untuk mengatasi epidemi yang telah menewaskan ribuan orang di seluruh dunia.

Sementara itu di Timur Tengah, virus tersebut telah merenggut 19 nyawa di Iran - penghitungan tertinggi di luar China - dengan 139 terinfeksi. Pakistan juga mendeteksi dua kasus pertamanya pada Rabu (26/2/2020), beberapa hari setelah menutup perbatasannya dengan Iran, yang juga muncul sebagai hotspot utama virus corona.

Di Asia, Korea Selatan tetap menjadi negara yang paling terkena dampak setelah China, dengan wabah dilacak ke sekte agama di Kota Daegu selatan.

Virus corona baru telah menewaskan lebih dari 2.700 orang dan menginfeksi lebih dari 80.000 di 34 negara, meskipun sebagian besar kasus masih ada di China, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Tetapi WHO mengatakan lebih banyak kasus baru sekarang tercatat di luar China daripada di dalam negeri, tempat virus itu pertama kali muncul pada akhir Desember.

Kekhawatiran atas penyebaran epidemi telah mengguncang pasar global dalam beberapa hari terakhir, membuat pasar-pasar saham Eropa, Amerika Serikat dan Asia dilanda aksi jual.

Di data ekonomi, Departemen Perdagangan AS mengatakan pada Rabu (26/2/2020) bahwa penjualan rumah keluarga tunggal baru bulan lalu berada pada tingkat tahunan yang disesuaikan secara musiman 764.000, naik 7,9 persen dibandingkan dengan angka revisi Desember.


 
Pewarta :
Editor : Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar