Film "Parasite" gambarkan tajamnya kesenjangan sosial di Korea Selatan

id film parasite,korea selatan,kesenjangan sosial,kesenjangan ekonomi

Film "Parasite" gambarkan tajamnya kesenjangan sosial di Korea Selatan

Sutradara film "Parasite" Bong Joon-ho saat meraih Oscar di Academy Awards 2020 (ANTARA/Reuters)

Seoul (ANTARA) - Komedi gelap "Parasite" adalah kisah dua keluarga Korea Selatan, si kaya Park dan si miskin Kim, mencerminkan tajamnya kesenjangan di negara dengan perekonomian  terbesar keempat Asia itu.

Film ini membuat sejarah sebagai film berbahasa non-Inggris pertama yang memenangi Oscar sebagai Film Terbaik pada Minggu, dan memicu ledakan perayaan oleh pengguna media sosial Korea Selatan.

Pesan film itu selaras dengan banyak warga Korea Selatan yang mengidentifikasi diri mereka sebagai "sendok kotor", atau mereka yang lahir dari keluarga berpenghasilan rendah yang nyaris  menyerah untuk memiliki rumah yang layak atau memanjat tangga sosial. Mereka adalah lawan dari kalangan "sendok emas" yang berasal dari keluarga kaya.

Baca juga: Film "Parasite" menang di Oscar, warga Korsel merayakannya

Sementara kesenjangan di Korea Selatan tidak selalu lebih buruk daripada banyak negara lain, konsep ini telah meledak ke panggung politik dalam beberapa tahun terakhir di tengah harga rumah yang tak terkendali dan ekonomi yang mandek, merusak dukungan untuk Presiden Moon Jae-in.Moon, dalam pesan ucapan selamatnya, mengatakan "Parasite" telah "menggerakkan hati orang-orang di seluruh dunia dengan kisah Korea yang paling unik".

Namun pesan film tersebut adalah kritik tajam terhadap masyarakat modern Korea Selatan, dan sutradara Bong Joon-ho beralih ke banyak adegan akrab di sekitar Seoul untuk menyoroti kesenjangan antara yang kaya dan miskin di kota.

Di seluruh Korea Selatan, perbedaan itu terlihat dari lingkungan lama di daerah kumuh dengan bata-bata yang hancur, tampak kontras dengan kehidupan kelas atas Seoul yang berkilau.Film ini menggunakan banyak isyarat visual untuk menggambarkan persaingan yang terjadi di masyarakat, dan kadang-kadang hubungan parasit antara yang kaya dan yang miskin.

"Hubungan timbal balik yang  tak nyaman dalam film itu memicu perasaan campur aduk dan menohok tabu  di masyarakat serta  mengadu domba orang kaya melawan orang miskin," kata Kim Chang-hwan, seorang warga Seoul berusia 35 tahun.

Baca juga: "Parasite", Film Korea Selatan terbaik di AACTA International Awards 2020

Ijazah Palsu

Ketimpangan ekonomi Korea Selatan lebih tinggi daripada banyak anggota Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), setara dengan Inggris dan Latvia, dan telah memburuk dalam beberapa tahun terakhir.

Namun, koefisien gini, ukuran yang biasa digunakan tentang bagaimana pendapatan yang merata didistribusikan ke seluruh populasi, lebih baik daripada negara seperti Amerika Serikat, menurut OECD.

Tetapi setelah bertahun-tahun pertumbuhan ekonomi yang mendorong pemulihan negara itu dari Perang Korea 1950-1953, masa depan ekonomi Korea Selatan lebih tidak pasti, yang menyebabkan meningkatnya kekhawatiran bagi banyak orang.

Sebuah survei pada 2019 oleh Lembaga Kesehatan dan Sosial Korea yang berafiliasi dengan pemerintah menemukan lebih dari 85 persen responden Korea Selatan merasa ada kesenjangan pendapatan yang sangat besar di masyarakat dan orang-orang butuh hidup dari  keluarga kaya untuk menjadi sukses.

Orang-orang muda menjadi pesimistis di tengah sistem pendidikan dan pasar kerja yang sangat kompetitif.Hal itu telah menyebabkan dukungan kepada Presiden Moon anjlok ke level 45 persen pada awal Februari, karena pendukungnya yang lebih muda menyatakan ketidakpuasan dengan prospek ekonomi mereka.

Sementara Moon secara konstitusional dilarang mencalonkan diri lagi, pemilihan parlemen kunci akan diadakan pada April, memberikan ujian bagi partai yang berkuasa.

Dalam "Parasite", satu karakter memalsukan  ijazah untuk kakaknya demi  mendapatkan pekerjaan sebagai guru les untuk keluarga kaya.

Adegan itu mengingatkan beberapa warga Korea Selatan tentang skandal yang sedang berlangsung yang menyebabkan pengunduran diri Menteri Kehakiman Cho Kuk.

Cho mengundurkan diri pada Desember dan dituntut karena memalsukan dokumen tentang investasi keluarga dan upaya untuk mendapatkan izin masuk universitas untuk anak-anaknya. Dia membantah melakukan kesalahan itu.

"Kemenangan 'Parasite' adalah hal yang sangat hebat, tetapi sangat pahit melihat seorang ayah terkesan dengan keterampilan anak-anaknya untuk menipu dalam upaya mereka untuk mendapatkan pekerjaan," tulis seorang pengguna Twitter, merujuk pada salah satu karakter utama.

Skandal itu mengingatkan Korea Selatan di mana orang-orang muda, yang bersaing sengit melalui sekolah dan universitas, semakin menemukan diri mereka berjuang dalam situasi  semakin berkurangnya posisi di pasar kerja yang suram, dalam suatu sistem yang mereka lihat terganggu oleh ketidakadilan sistemik dan bias dalam mendukung elite.

Masalahnya adalah kekecewaan khusus kepada orang-orang muda yang mendukung Moon dan partainya ketika ia menjadi presiden yang mengusung pembersihan korupsi di pemerintahan dan bisnis.

Sumber: Reuters
Pewarta :
Editor : Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar