Kue keranjang umumnya dipesan dua pekan menjelang Imlek

id kue keranjang,imlek,Warga tionghoa,Pontianak

Kue keranjang umumnya dipesan dua pekan menjelang Imlek

Kue keranjang tradisional dengan bahan utama beras ketan (pulut) dan gula merah kelapa merupakan menu wajib masyarakat Tionghoa yang merayakan Imlek atau Tahun Baru China salah satunya di Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat. (Istimewa)

Pontianak (ANTARA) - Salah satu pembuat kue keranjang tradisional dengan bahan utama beras ketan (pulut) dan gula merah kelapa mengaku bahwa pihaknya mulai banyak menerima pesanan kue keranjang khas Pontianak itu sejak dua pekan lalu.
 
"Namun, pesanan kue keranjang tahun ini agak sedikit menurun dibanding tahun lalu, karena dampak mahalnya bahan baku membuat kue keranjang tersebut, sehingga warga Tionghoa tidak membelinya dalam jumlah banyak seperti tahun-tahun lalu," kata Achai, di Pontianak, Kalimantan, Senin.

Ia menambahkan bahwa usaha yang digelutinya saat ini merupakan warisan dari orangtuanya, yang sudah berjalan sejak puluhan tahun.

Bahan utama dalam membuat kue keranjang, yakni gula merah, ketan atau pulut dan tepung. "Pembuatan kue keranjang cukup dikukus, tetapi membutuhkan waktu lama dan tidak ada ritual dalam pembuatannya," ungkapnya.

Makanan wajib disajikan saat Imlek
Ia menambahkan bahwa saat ini harga jual kue keranjang satu kilogramnya mencapai Rp25 ribuan.

"Kue keranjang merupakan kue yang wajib disajikan pada setiap Imlek atau ketupat pada Umat Muslim yang merayakan Idul Fitri," katanya.

Apalagi, menurut dia, kue keranjang tersebut digunakan oleh warga Tionghoa yang melaksanakan sembahyang dalam merayakan Imlek.

Kue keranjang tradisional dengan bahan utama beras ketan (pulut) dan gula merah kelapa merupakan menu wajib masyarakat Tionghoa yang merayakan Imlek atau Tahun Baru China salah satunya di Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat.

 "Kue keranjang selalu hadir saat kami merayakan Imlek, karena itu sudah menjadi tradisi kami sejak turun-temurun, baik untuk sarana ibadah dan untuk menjamu tamu saat merayakan Imlek," ungkap Acung.

Tanpa kue keranjang terasa kurang lengkap
Hal, senada juga diakui oleh Alex (47), yang juga merayakan Imlek.

Dia juga selalu menghidangkan kue keranjang saat merayakan Imlek.

"Tanpa adanya kue keranjang, maka terasa kurang lengkap dalam merayakan Imlek," ujarnya.

Sudah menjadi kebiasaan saat merayakan Imlek, warga Tionghoa dengan menyantap dan membagikan kue keranjang dengan harapan mendapat berkah dan kemakmuran sepanjang tahun. "Kue keranjang juga biasanya digunakan sebagai sesaji kepada leluhur pada tujuh hari menjelang Imlek," katanya.

Sementara, bentuk kue keranjang yang bulat, dan terbuat dari tepung ketan yang teksturnya lengket dipercaya sebagai lambang persaudaraan atau kekeluargaan yang hidup dalam kerukunan dan kesetiaan, serta hubungan yang erat dan saling tolong menolong dalam menghadapi tahun yang baru.

"Untuk rasanya yang manis melambangkan rasa suka cita, kegembiraan serta harapan akan kehidupan berjalan lancar di tahun yang baru," katanya.

Baca juga: Wihara tertua di Bandarlampung pasang 100 lilin menyambut Imlek
Baca juga: Jelang Imlek masyarakat keturunan Tionghoa mulai berburu pernak-pernik
Baca juga: Harganya bisa Rp550 ribu/kg, ikan dingkis jadi pembawa berkah saat Imlek
Pewarta :
Editor : Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar