Anomali di perairan Pesibar ancam budidaya ikan

id FKPA Lampunh,Anomali air laut Pesibar

Anomali di perairan Pesibar ancam budidaya ikan

Ilustrasi anomali air laut di Pesisir Barat (Pesibar), yang terjadi beberapa waktu lalu, Senin (6/1/2020) (ANTARA/Dian Hadiyatna/HO)

Bandarlampung (ANTARA) - Forum Komunikasi Praktisi Aquakultur (FKPA) Lampung menyebutkan bahwa anomali yang terjadi pada Desember di perairan Kabupaten Pesisir Barat dapat mengancam budidaya udang dan ikan di daerah itu.



"Kami bersama pihak laboraturium BPPL telah mengambil sampel air laut Bengkunat Pesisir Barat (Pesibar) dan ikan yang di temukan mati di sana untuk di uji kelayakan," kata Ketua FKPA Lampung Hanung Harnadi, dalam keterangan yang diterima, di Bandarlampung, Senin.



Berdasarkan hasil laboraturium, lanjutnya, ada indikasi perairan tersebut mengalami booming plankton jenis "dinoflagelta" atau sering disebut "red tide" sehingga terjadi anomali air laut.



Sedangkan, dari hasil ikan yang dibedah didapatkan hati yang sedikit pucat dan insangnya mengalami gangguan fungsi akibat tertutup lendir.



"Hasil ini juga menyatakan bahwa secara kimia parameter kualitas air masih memenuhi standar baku mutu, artinya tidak ada penurunan kualitas air," jelasnya.



Namun, bagi budi daya, kata dia, jenis plangkton ini cukup berbahaya karena lendir yang dihasilkan menutup insang sehingga biota bisa mati mendadak karena kehabisan atau sulit mengambil oksigen.



"Sedangkan hasil laboraturium  juga menunjukkan jenis plankton tersebut tidak menghasilkan toksik dan berbahaya bagi manusia," ujarnya.



Ia mengungkapkan bahwa hasil laut yang terserang plankton tersebut masih aman bila dikonsumsi dalam keadaan segar karena pada pengecekan laboratorium tidak ada plankton yang bersifat negatif.



Atas peristiwa itu, Hanung menghimbau, semua anggota FKPA untuk tidak memasukkan air laut ke dalam kolam budidaya jika jenis plankton itu masih terlihat secara visual di perairan Pesibar.



"Kemunculannya akibat curah hujan yang tinggi dan sifatnya insedensil yang kemudian hujan tidak ada lagi beberapa hari, tapi plankton ini akan hilang seiring hujan yang akan sering turun," jelasnya.

Pewarta :
Editor : Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar