Perusahaan asal Indonesia kembangkan kertas 100 persen terurai alami

id app sinar mas,kertas terurai alami,ekonomi sirkular

Perusahaan asal Indonesia kembangkan kertas 100 persen terurai alami

Chief Sustainability Officer APP Sinar Mas Elim Sritaba menjelaskan alternatif solusi dan standar kemasan ramah lingkungan dari kertas pada sesi diskusi panel Paviliun Indonesia di konferensi perubahan iklim di Madrid, Spanyol, Jumat (6/12/2019). ANTARA/HO-APP Sinar Mas

Jakarta (ANTARA) - Perusahaan Indonesia APP Sinar Mas mengembangkan inovasi kertas kemasan yang terbuat dari bahan daur ulang dan 100 persen terurai alami yakni FoopakBioNatura.

Chief Sustainability Officer APP Sinar Mas Elim Sritaba dalam rilis yang diterima di Jakarta, Minggu, menjelaskan, salah satu tantangan dalam pengembangan FoopakBioNatura adalah menghilangkan lapisan plastik, yang pada umumnya terdapat di kemasan kertas lain yang biasanya digunakan untuk mencegah serapan air, minyak, dan suhu ekstrem.

"Berkat kerja keras tim kami yang mendedikasikan diri untuk melakukan riset selama lima tahun terakhir, kami berhasil mengganti lapisan plastik dengan lapisan berbasis air yang disegel dengan cara dipanaskan," kata Elim Sritaba.

Elim menuturkan FoopakBioNatura juga diproduksi secara terbarukan dari Hutan Tanaman Industri (HTI) yang dikelola secara bertanggung jawab.

Kertas kemasan itu dapat 100 persen terurai dalam 12 pekan bahkan jika hanya dibiarkan di tempat pembuangan akhir (TPA). Kemasan ini juga dapat didaur ulang 100 pekan jika bersih dari limbah makanan.

Sebelumnya, Indonesia dinilai sudah harus untuk mulai menerapkan ekonomi sirkular karena dapat menyentuh manfaat sosial, ekonomi dan lingkungan hidup di Indonesia.

"Kami percaya konsep ekonomi sirkular merupakan satu jawaban yang sekaligus menyentuh manfaat sosial, ekonomi dan lingkungan hidup di Indonesia," ujar Sekretaris Jenderal Packaging and Recycling Association for Indonesia Sustainable Environment (Praise) Mignone Maramis dalam konferensi pers "Indonesia Circular Economy Forum (ICEF) ke-tiga" di Jakarta, Senin (11/11).

Ia mengemukakan Indonesia memiliki sektor informal yang perlu diperhatikan seperti kelompok pemulung. Indonesia dapat belajar dari berbagai praktik yang sudah diimplementasikan oleh negara-negara maju.

"Namun, Indonesia masih harus perlu untuk menyesuaikan dengan konteks situasi dan prioritasnya, memang masih butuh waktu. Di Eropa saja perlu beberapa dekade. Di Indonesia, pengelolaan sampah mungkin sudah berjalan tapi belum optimal," ucapnya.

Ia mengemukakan  juga telah bekerjasama dengan seluruh pihak, diantaranya bank sampah, Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R), pemerintah daerah, hingga kementerian dan lembaga.

Ekonomi sirkular merupakan pemanfaatan barang-barang secara maksimum. Konsep ekonomi sirkular berupaya mempertahankan nilai produk agar dapat digunakan berulang-ulang tanpa menghasilkan sampah (zero waste) melalui tiga cara, yakni daur ulang (recycle), penggunaan kembali (reuse) dan produksi ulang (remanufacture).

Praise merupakan asosiasi perusahaan produksi dan kemasan yang terdiri dari enam anggota yaitu Coca Cola, Danone, Indofood, Nestle, Tetrapak dan Unilever.
Pewarta :
Editor : Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar