Nelayan Bangka Belitung sulit dapatkan solar

id solar,nelayan Bangka,Nelayan Lampung

Nelayan Bangka Belitung sulit dapatkan solar

Nelayan Belitung kesulitan mendapatkan BBM jenis solar (babel.antaranews.com/kasmono)

Belitung, Babel (ANTARA) - Sejumlah nelayan di Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, menyatakan sulit mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar, sehingga mengganggu jadwal melaut nelayan di daerah itu.

Sekretaris Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Belitung, Jasman di Tanjung Pandan, mengtakan kondisi kelangkaan ini telah terjadi sejak dua minggu terakhir.

"Belakangan ini nelayan kesulitan mendapatkan solar bersubsidi sehingga beberap teman-teman nelayan tidak turun melaut," katanya.

Ia menyayangkan, kondisi seperti terjadi sekarang dimana hasil tangkapan nelayan sedang baik dan banyak, sebelum memasuki musim barat pada Desember mendatang.

"Kalau sekarang sudah tidak bisa turun melaut kemudian Desmber karena musim barat tidak bisa melaut jadi ini sangat berdampak kepada pendapatan nelayan," ujarnya.

Ia mendorong, agar pihak terkait mengusut persoalan ini sehingga distribusi solar bersubsidi bagi nelayan tersebut dapat tepat sasaran.

"Bagi pemangku kebijakan di Belitung kami harapkan investigasi tempat-tempat pengisian solar subsidi baik di SPDN maupun APMS. Jangan sampai solar subsidi dimanfaarkan oleh oknum yang tidak berkepentingan sebab subsidi tersebut peruntukannya untuk nelayan," katanya.

Sementara itu salah seorang nelayan, Gilang (27) di Tanjung Pandan, Rabu mengakui kesulitan mendapatkan solar bersubsidi lebih dari dua pekan.

"Sudah dua kali berangkat susah terus mencari minyak (solar subsidi) sampai sekarangpun masih sulit untuk didapatkan," katanya.

Ia berharap, agar pemerintah dapat memperhatikan persoalan tersebut sehingga distribusi solar bagi para nelayan dapat kembali normal.

"Kami ingin segera bisa kembali turun melaut tidak dihadapi dengan kondisi seperti ini bahan bakar minyak solar sangat sulit kami dapatkan," katanya.
Pewarta :
Editor : Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar