Harga minyak naik ke tertinggi dua bulan ini didorong harapan pemangkasan OPEC

id harga minyak,minyak WTI,minyak Brent,kesepakatan OPEC

Harga minyak naik ke tertinggi dua bulan ini didorong harapan pemangkasan OPEC

Ilustrasi - Harga minyak mentah naik. (ANTARA News/Ridwan Triatmodjo)

Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Januari naik 1,57 dolar AS atau 2,5 persen menjadi ditutup di 63,97 dolar AS per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari naik 1,57 dolar AS atau 2,8 persen menja
New York (ANTARA) - Harga minyak naik lebih dari dua persen pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB) ke level tertinggi dalam hampir dua bulan, menyusul laporan Reuters bahwa Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya kemungkinan akan memperpanjang penurunan produksi hingga pertengahan 2020 dan tanda-tanda baru bahwa China telah mengundang negosiator perdagangan AS untuk pembicaraan babak baru.

Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Januari naik 1,57 dolar AS atau 2,5 persen menjadi ditutup di 63,97 dolar AS per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari naik 1,57 dolar AS atau 2,8 persen menjadi menetap pada 58,58 dolar AS per barel.
Baca juga: Harga minyak melonjak setelah keluar data stok AS

Harga WTI menyentuh tertinggi sesi di 58,67 dolar AS per barel, tertinggi sejak 23 September dan Brent naik ke tertinggi 64,03 dolar AS tertinggi sejak 24 September.

Untuk mendukung harga minyak, OPEC dan sekutunya kemungkinan akan memperpanjang pengurangan produksi hingga Juni ketika mereka bertemu bulan depan, menurut sumber OPEC.

OPEC akan bertemu pada 5 Desember di kantor pusatnya di Wina, diikuti dengan pembicaraan dengan sekelompok produsen minyak lainnya, yang dipimpin oleh Rusia, yang dikenal sebagai OPEC +. Kesepakatan pemangkasan pasokan saat ini berlangsung hingga Maret 2020.

Sumber mengatakan kepada Reuters bahwa secara resmi mengumumkan pemotongan yang lebih dalam tampaknya tidak mungkin untuk saat ini, meskipun pesan tentang kepatuhan yang lebih baik dengan pembatasan yang ada dapat dikirim ke pasar.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan pada Rabu (20/11/2019) bahwa Rusia dan OPEC memiliki "tujuan bersama" untuk menjaga pasar minyak seimbang dan dapat diprediksi, dan Moskow akan melanjutkan kerja sama di bawah kesepakatan global untuk mengurangi pasokan minyak.

"Saya pikir pasar cukup pas untuk fakta bahwa pertumbuhan ekonomi melambat seperti tingkat kenaikan permintaan minyak di mana perkiraan telah direvisi lebih rendah secara terus-menerus ... banyak dari faktor-fakto bearish tersebut telah diperhitungkan, sehingga pertemuan OPEC yang akan datang serta keresahan di Iran dan Irak menjadi fokus," kata Presiden Lipow Oil Associates, Andrew Lipow, di Houston.

"Pasar dipasok dengan baik dan menurut pendapat saya, yang kemungkinan akan memaksa tangan OPEC dan produsen non-OPEC untuk memperpanjang pemotongan hingga 2020."
Baca juga: Harga minyak turun menyusul ketidakpastian pembicaraan perdagangan


Kerusuhan meletus pada 15 November di Iran setelah pemerintah mengumumkan kenaikan harga bensin sedikitnya 50 persen, dan dengan cepat berubah menjadi gerakan politik dengan pengunjuk rasa menuntut para pejabat tinggi untuk mundur.

Di Irak pada Kamis (21/11/2019), tujuh orang tewas ketika pasukan keamanan menembak dengan peluru tajam dan tabung gas air mata ke demonstran di Baghdad, sumber keamanan dan medis mengatakan, dalam kekerasan baru yang mematikan ketika pihak berwenang berusaha untuk membubarkan protes anti-pemerintah.

Juga mendukung pasar, kementerian perdagangan China mengatakan China akan berusaha untuk mencapai kesepakatan perdagangan awal dengan Amerika Serikat karena kedua belah pihak menjaga saluran komunikasi tetap terbuka.

Sebuah laporan Reuters pada Rabu (20/11/2019) mengatakan penyelesaian "perdagangan fase satu" AS-China dapat meluncur ke tahun depan.
Baca juga: Kesepakatan dagang AS-China dongkrak harga minyak

Di tengah perang dagang berlarut-larut antara Amerika Serikat dan China, Presiden AS Donald Trump diperkirakan akan menandatangani dua RUU yang disahkan oleh Kongres yang dimaksudkan untuk mendukung para pemrotes di Hong Kong, sebuah langkah yang kemungkinan akan membuat marah China.

Hong Kong telah menyaksikan protes yang semakin keras terhadap pemerintahan China selama beberapa bulan dan pengesahan RUU tersebut berpotensi merusak upaya untuk mengamankan kesepakatan perdagangan.

"Pembicaraan positif dari China tidak mengimbangi harapan bahwa Presiden Trump akan menandatangani RUU yang mendukung pengunjuk rasa Hong Kong," kata Edward Moya, analis pasar senior di OANDA di New York.

"Waktu kesepakatan fase satu tidak jelas, tetapi pasar mulai gelisah, kita bisa melihat pengulangan kejatuhan dalam pembicaraan yang terjadi pada Mei."

Wall Street Journal juga melaporkan pada Kamis (21/11/2019) bahwa China telah mengundang negosiator perdagangan utama AS untuk putaran baru pembicaraan di Beijing, mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya.

Sebuah laporan di South China Morning Post mengatakan Amerika Serikat dapat menunda tarif impor China bahkan jika kesepakatan tidak tercapai pada 15 Desember.

BNP Paribas menaikkan perkiraan harga minyak untuk tahun ini dan 2020 dari perkiraan sebelumnya, mengutip peningkatan kapasitas produksi kilang karena peraturan baru yang akan datang tentang pengiriman bahan bakar.

 
Pewarta :
Editor : Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar