Wisata prioritas Indonesia bakal diterangi tenaga surya

id Elektrifikasi,wisata indonesia,tenaga surya

Wisata prioritas Indonesia bakal diterangi tenaga surya

Danau Toba (Antara Sumut/Donny)

"Pariwisata menjadi salah satu sektor yang ditargetkan dapat memanfaatan sumber energi baru terbarukan (EBT), khususnya tenaga surya untuk sumber energi listrik sehari-hari," katat Staf Ahli Bidang Lingkungan Hidup dan Tata Ruang, Kementerian Energi

Jakarta (ANTARA) - Daerah wisata prioritas di Indonesia yang sudah ditetapkan oleh pemerintah akan segera diterangi dengan energi baru terbarukan yaitu pemaksimalan tenaga surya.

"Pariwisata menjadi salah satu sektor yang ditargetkan dapat memanfaatan sumber energi baru terbarukan (EBT), khususnya tenaga surya untuk sumber energi listrik sehari-hari," katat Staf Ahli Bidang Lingkungan Hidup dan Tata Ruang, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Saleh Abdurrahman di Jakarta, Rabu.
Baca juga: Menteri BUMN mendorong swasta investasi ke lima destinasi prioritas

Di antara banyaknya destinasi wisata di Indonesia, Saleh menjelaskan setidaknya ada 10 prioritas pariwisata nasional yang juga akan menggunakan EBT sebagai sumber energi utama, yaitu

1. Danau Toba

2. Belitung

3. Kepulauan Seribu

4. Tanjung Lesung

5. Borobudur

6. Bromo Tengger Semeru

7. Mandalika

8. Labuan Bajo

9. Wakatobi

10. Morotai (Maltara)

"Jadi ini 10 destinasi prioritas akan kita maksimalkan pemanfaatan PLTS, karena daerah wisata itu harus sebanyak banyaknya menggunakan energi terbarukan," kata Saleh.

Langkah ini merupakan salah satu perwujudan cita-cita besar dalam pengelolaan energi yang ramah lingkungan. Pada tahun 2025 Pemerintah menargetkan penggunakan EBT mencapai 23 persen dari total bauran energi seluruhnya, di mana PLTS diproyeksikan dapat menyumbang sebanyak 2.023,3 MW di tahun 2025 yang berasal komulatif RUPTL, Target Penambahan Sinergi BUMN, Pemasangan PLTS Atap, serta penggunaan APBN (Kementerian ESDM dan K/L lainnya).
Baca juga: Presiden menilai kemajuan pengembangan destinasi wisata masih lambat

Untuk mencapai target 23 persen pada 2025 tersebut Saleh memaparkan setidaknya Indonesia sudah memiliki suplai energi lebih dari 400 MTOE dengan lebih dari 115 GW kapasitas terpasang pada pembangkit listrik yang dapat menghasilkan 2.500 kWh perkapita dalam setahun.

Dan pada saat itu rasio elektrifikasi di Indonesia sudah mencapai 100 persen. "Bagamana kita mencapai terget tersebut, salah satunya dengan PLTS," jelas Saleh.

Dalam RUPTL, penggunan PLTS ditargetkan terus meningkat tiap tahunnya. Jika pada tahun 2019 PLTS di targetkan menghasilkan 126,8 MW, pada tahun 2022 meningkat menjadi 553,6 MW dan terus meningkat menjadi 993,5 MW di tahun 2025.

Diluar RUPTL, Saleh juga menjelaskan bahwa ada pasar energi yang juga potensial dalam penggunaan PLTS misalnya PLTS Atap, smelter maupun industri lainnya. Dari pasar energi ini diharapkan dapat menambah pasokan energi sebanyak 201 MW di tahun 2025.

Pemanfaatan sumber energi yang ramah lingkungan ini pula sejalan dengan Paris Agreement yang ditandatangani pada 22 April 2016 di Paris oleh Indonesia melalui Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanam (LHK). "Presiden Joko Widodo dalam COP 21 yang dilaksanakan pada tanggal 21 Desember 2016 juga berkomitmen mereduksi emisi sebedar 29 persen dengan menggunakan kemampuan sendiri dan 41 persen dengan dukungan internasional," ungkap Saleh.

 

Pewarta :
Editor : Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar