Nelayan NTT kubur enam ekor bangkai paus yang terdampar

id paus terdampar

Nelayan NTT kubur enam ekor bangkai paus yang terdampar

Paus pilot yang terdampar di pulau Sabu. (Istimewa)

Kupang (ANTARA) - Para nelayan di Desa Menia, Pulau Sabu, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur melakukan ritual adat untuk menguburkan enam ekor bangkai paus jenis pilot yang terdampar di pesisir pantai desa tersebut.

"Menjelang proses penguburan, masyarakat di desa itu menggelar ritual adat dengan cara membacakan doa-doa adat yang dilakukan oleh pemuka adat di daerah itu," kata Kepala Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang, Ikram Sangadji saat dihubungi dari Kupang, Jumat.

Hal ini disampaikannya berkaitan proses penguburan enam ekor paus pilot yang mati akibat terdampar di pesisir pantai di pulau tersebut pada Kamis (10/10).



Ikram sendiri mengaku sedang berada di lokasi kejadian untuk meninjau langsung belasan paus yang terdampar namun hanya enam ekor yang mati akibat kesalahan penanganan.

Ia menjelaskan bahwa masyarakat di desa tersebut sengaja menggelar ritual adat demikian karena memang warga setempat menilai bahwa paus yang terdampar itu adalah nenek moyang mereka.

Ikram menambahkan sesudah dilakukan ritual adat, eskavator yang telah tiba langsung menggali lubang untuk menguburkan enam ekor paus yang yang panjangnya berkisar dari 3 hingga 4 meter.



"Saat dikuburkan paus bangkai paus dialas dengan menggunakan terpal, dan perutnya dikeluarkan guna mempercepat pembusukan," tambah dia.

Enam ekor paus yang dikuburkan itu setelah ditelusuri diketahui bahwa lima ekornya berjenis kelamin jantan dan satu ekor lagi berjenis kelamin betina.

Namun sebelum dikuburkan, pihaknya mengambil sebagian daging dari paus tersebut untuk nantinya dibawa ke Kupang, dan kemudian dikirimkan ke Jakarta untuk dilakukan uji lab guna mencari tahu penyebab sebenarnya ikan-ikan itu terdampar.

Kejadian terdamparnya belasan paus di daerah itu sudah dua kali. Pada tahun 2014 juga paus jenis yang sama terdampar di daerah itu.
 
Pewarta :
Editor : Muklasin
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar