Puan jadi Ketua DPR, Analis: Ubah citra DPR saja tidak cukup

id Nyarwi ahmad, puan maharani

Puan jadi Ketua DPR, Analis: Ubah citra DPR saja tidak cukup

Ketua DPR periode 2019-2024 Puan Maharani (kanan) mengacungkan palu disaksikan Wakil Ketua M Aziz Syamsuddin (kiri), Sufmi Dasco Ahmad (kedua kiri), Rahmad Gobel (ketiga kiri), dan Muhaimin Iskandar (keempat kiri) usai pelantikan dalam Rapat Paripurna ke-2 Masa Persidangan I Tahun 2019-2020 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (1/10/2019). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/ama. (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)

Jakarta (ANTARA) - Analis komunikasi dan marketing politik UGM Yogyakarta Nyarwi Ahmad menilai langkah yang harus dilakukan Puan Maharani sebagai Ketua DPR tidak cukup hanya dengan mengubah citra lembaga itu.

"Ubah citra DPR saja tidak cukup. Yang dibutuhkan lebih dari itu," katanya, saat dihubungi Antara, dari Jakarta, menanggapi langkah yang perlu dilakukan Puan sebagai Ketua DPR.



Menurut Nyarwi, DPR di bawah kepemimpinan Puan perlu mengembangkan strategi komunikasi politik dan marketing politik secara komprehensif.

Ia mengatakan menjadi tugas Puan untuk menjadikan DPR sebagai lembaga demokrasi yang kuat, modern, dan mendapatkan kepercayaan rakyat yang lebih tinggi dibandingkan periode-periode sebelumnya.

Nyarwi menjelaskan ada beberapa model strategi marketing politik yang dapat diadaptasi Puan, salah satunya adalah Proactive Political Marketing and Market-Oriented Model.



Melalui adaptasi model ini, kata dia, DPR tidak hanya bisa lebih pro-aktif menangkap dan merespons suara-suara rakyat dari berbagai kalangan, namun lebih dari itu.

"Berbagai kebijakan dan produk-produk politik yang dihasilkan oleh DPR bersama Pemerintah, khususnya UU bisa memenuhi harapan ragam masyarakat yang diwakilinya," katanya.

Dengan model strategi marketing politik itu, kata dia, DPR akan tampil pro-aktif, bukan reaktif dalam menanggapi aspirasi yang disuarakan masyarakat.

Ia mencontohkan gelombang demonstrasi belakangan yang memprotes sejumlah UU karena dianggap tidak aspiratif.



"Ini cukup mengejutkan. Faktanya, gelombang demonstrasi ini muncul menunjukkan masyarakat punya harapan besar dan tidak bisa disepelekan," katanya.

Artinya, kata Nyarwi, wakil rakyat perlu lebih sensitif dalam merasakan dan mengetahui keinginan rakyat yang memilihnya sehingga DPR kembali mendapatkan kepercayaan dan menjadi aktor penting dalam jalannya pemerintahan.

Selama ini, kata dia, masyarakat lebih melihat bahwa peran eksekutif lebih dominan, padahal legislatif merupakan aktor lama dalam sejarah demokrasi.

"Makanya, ini sebenarnya menjadi ujian bagi Puan, sekaligus momentum baginya untuk menunjukkan wajah baru DPR di mata rakyat," katanya.

Puan, kata dia, memiliki kesempatan untuk tampil sebagai aktor politik yang mampu menunjukkan roh positif DPR di mata rakyat dengan jabatan yang diembannya saat ini.

Sebelumnya, politikus PDI Perjuangan Puan Maharani resmi menjadi ketua DPR RI periode 2019-2024 setelah dilantik pada rapat paripurna pemilihan pimpinan DPR RI di Komplek Gedung MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Selasa (1/10) malam.

Puan Maharani dilantik bersama empat orang Wakil Ketua DPR RI yakni Azis Syamsuddin (Fraksi Partai Golkar), Sufmi Dasco Ahmad (Fraksi Partai Gerindra), Rahmat Gobel (Fraksi Partai Nasdem), dan Abdul Muhaimin Iskandar (Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa).
Pewarta :
Editor : Muklasin
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar