Harga minyak tergelincir

id harga minyak ,minyak berjangka,minyak WTI,minyak Brent

Harga minyak tergelincir

Ilustrasi - Barel Minyak dengan grafik harga minyak jatuh. ANTARA/Shutterstock/pri (Shutterstock)

Harga minyak global ditutup secara signifikan lebih rendah pada perdagangan Senin (Selasa pagi WIB).
New York (ANTARA) - Harga minyak global ditutup secara signifikan lebih rendah pada perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), di tengah laporan bahwa Arab Saudi telah membuat kemajuan dalam memulihkan kapasitas produksi minyaknya.

Patokan AS, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November, turun 1,84 dolar AS menjadi menetap pada 54,07 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.
Baca juga: Produksi minyak AS digenjot, harga minyak dunia turun

Sementara, patokan internasional, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November, turun 1,13 dolar AS menjadi ditutup pada 60,78 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange .

Saudi Aramco pekan lalu mengembalikan kapasitas penuh ke tingkat sebelum serangan terhadap fasilitas minyaknya, Ibrahim Al-Buainain, kepala eksekutif dari unit perdagangannya, mengatakan pada Senin (30/9/2019), menurut laporan Reuters.
Baca juga: Harga minyak dunia naik di tengah kekhawatiran berlanjutnya kekhawatiran pasokan

Pada 14 September, serangan pesawat tak berawak merusak fasilitas pengolahan minyak Saudi Aramco Abqaiq dan ladang minyak Khurais di Arab Saudi bagian timur, mengakibatkan gangguan besar-besaran terhadap kapasitas produksi minyak mentah di wilayah tersebut.

Harga minyak juga terbebani oleh penguatan dolar AS. Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,28 persen menjadi 99,3795 pada akhir perdagangan.

Selain itu, harga minyak masih tertekan oleh beberapa perdagangan spekulatif, para pakar mencatat.

"Investor keuangan spekulatif (lebih lanjut) mengurangi posisi net long mereka di Brent dan WTI dalam minggu pelaporan terakhir, sehingga berkontribusi terhadap penurunan harga minyak," Carsten Fritsch, analis energi di Commerzbank Research mengatakan dalam sebuah catatan.
 
Pewarta :
Editor : Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar