Petani diimbau mewaspadai hama ulat grayak

id Hama ulat grayak,Gunung Kidul

Petani diimbau mewaspadai hama ulat grayak

Petani bawang merah di Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, mewaspadai potensi serangan hama ulat grayak. Sehingga, setiap pagi sebelum matahari terbit melakukan perawatan khusus. (Foto ANTARA/Sutarmi)

Gunung Kidul (ANTARA) - Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengimbau kepada petani mewaspadai hama ulat grayak pada masa tanam pertama yang berpotensi menyerang tanaman jagung.

Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Pangan Gunung Kidul Raharjo Yuwono di Gunung Kidul, Senin, mengatakan ulat grayak merupakan jenis hama baru yang menyerang tanaman jagung.

"Kemunculan hama ini dapat mengancam para petani jagung di Gunung Kidul. Kami mendapatkan informasi bahwa jenis hama tersebut ditemui di Sumatera Barat dan saat ini sudah ditemukan di Klaten," kata Raharjo.



Ia mengatakan hama ini memiliki jelajah tinggi dan juga reproduksi yang cukup cepat, sehingga bisa merusak tanaman secara singkat. Ada beberapa ciri perbedaan dengan ulat grayak biasa (Heliothis armigera) antara lain, memiliki garis bentuk huruf Y pada kepala, memiliki empat buah pinacula yang besar pada A8, tidak memiliki scobinasi atau tonjolan halus pada integument tubuh dan memiliki garis tebal pada lateral tubuh.

“Perbedaan serangan pada tanaman jagung adalah ditemukannya lubang gerekan pada batang dan dijumpai populasi larva pada batang jagung,” kata dia.

Untuk pengendaliannya harus dilakukan monitoring terlebih dahulu dalam waktu seminggu sekali atau paling lama lima belah hari sekali. Selain itu ketepatan waktu dalam menanam juga sangat salah satu bentuk antisipasinya.

"Bisa juga menggunakan patogen hama yaitu mengumpulkan larva atau ulat yang mati karena penyakit kemudian diblender dan digunakan sebagai bahan penyemprotan," katanya.

Lebih lanjut, Raharjo mengatakan pengendalian hama ini bisa juga menggunakan dengan agens Beuveria bassiana , atau NPVS. Dapat juga melalui pengendalian secara mekanis dengan mengumpulkan larva dan telur kemudian dihancurkan.

"Terakhir pengendalian secara kimiawi dengan bahan aktif smamektin benzoat, siantraniliprol dan tiametoksam," katanya.

Sementara itu, salah satu petani di Kecamatan Patuk Ngadiran mengatakan dirinya selama masa tanam pada tahun ini belum pernah menemui hama tersebut.

"Namun jika hama tersebut ditemukan di Gunun Kidul dinas terkait dapat mengatasi dengan cepat," harapnya.
 
Pewarta :
Editor: Muklasin
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar